13 tahun Setelah Peluru Menembus Dada DR Azhari

13 tahun Setelah Peluru Menembus Dada DR Azhari
Analis Kebijakan Utama bidang Kurikulum Lembaga Pendidikan dan Latihan (Lemdiklat) Polri yang juga mantan Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Komjen Arif Wachjunadi. ( Foto: Istimewa / Istimewa )
Asni Ovier / AO Jumat, 9 November 2018 | 15:24 WIB

Jakarta - Pada akhir 2000, kita dikejutkan oleh serangan masif teror bom di beberapa kota di Indonesia, seperti Pekanbaru, Batam, Riau, Jakarta, Medan, dan Mojokerto. Serentetan bom yang mengguncang itu, di kalangan masyarakat, dikenal dengan sebutan Bom Natal dan Tahun Baru, karena ledakan-ledakan itu terjadi menjelang perayaan Natal dan tahun baru, akhir 2000.

“Kala itu, teror bom boleh dibilang masih jarang terjadi. Kalau pun ada, rentang waktunya sangat panjang, seperti ancaman dan serangan bom dengan target sangat strategis pernah terjadi puluhan tahun sebelumnya, ada serangan Bom Cikini pada 1945, serangan bom di Kedutaan Jepang di Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada 1970-an, dan ancaman bom di Candi Borobudur, Magelang, pada 1984. Rangkaian teror bom tersebut sesungguhnya menjadi catatan penting bagi bangsa ini bahwa sel-sel teror di Indonesia telah ada sejak puluhan tahun lalu,” ujar mantan Kapolda Bali, Irjen (Purn) Arif Wachjunadi di Jakarta, Jumat (9/11).

Mantan Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Sestama Lemhannas) itu mengatakan, bom paling spektakuler yang pernah mengguncang sejarah negeri ini adalah Bom Bali I, yang terjadi pada 12 oktober 2002. Bom yang meluluhlantakkan dua tempat hiburan, yakni Padys Cafe dan Sari Club di pusat kawasan wisata Kuta Bali, itu meninggalkan trauma, bukan hanya bagi para korban, juga Polri sebagai institusi yang paling bertanggung jawab terhadap keamanan.

“Sampai-sampai, serangan mematikan di jantung ikon pariwisata Indonesia yang mendunia itu membuat Polri merasa gagal dalam menjaga keamanan dan mencegah kejadian tersebut. Hal ini sempat dikatakan oleh Jenderal Dai Bachtiar sebagai Kapolri, di hadapan sidang kabinet terbatas yang dipimpim oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, dua hari setelah bom Bali I meledak,” ujarnya.

Dikatakan, saat itu Jenderal Dai pasrah. “Kalau pun itu memang dianggap gagal, saya siap dicopot dari jabatan Kapolri,” ujar Irjen Arif mengutip pernyataan Dai Bachtiar kala itu.

Namun, ujarnya, pada sidang kabinet itu juga, Dai Bachtiar menjelaskan bahwa selain mencegah yang gagal tersebut, masih ada satu tugas lagi Polri, yaitu mengungkap pelaku peledakan bom. Kesimpulan sidang kabinet ini, Jenderal Dai Bachtiar tidak dicopot dan Presiden Megawati memberikan kesempatan kepadanya beserta jajaran Polri untuk mengungkap peristiwa Bom Bali I hingga tuntas.

“Singkat cerita, meski tabir gelap menutup sengkarut peristiwa Bom Bali I, kerja keras dan kerja cerdas Polri akhirnya menemukan titik balik dengan tersingkap dan terungkapnya peristiwa itu secara tuntas,” ujarnya.

Alumni Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lemhannas itu mengatakan, para pelaku utamanya berjumlah 12 orang terdeteksi dengan baik. Akhirnya, tiga pelaku, yakni Imam Samudera, Ali Gufron atau Muklas, dan Amrozi dieksekusi di Nusakambangan oleh Regu Tembak Polri.

Sementara, 3 pelaku lain harus dieksekusi di lapangan, yakni Noordin M Top, Abdul Matin, dan DR Azhari. Lalu, 4 orang lainnya, yakni Ali Imron, Mubarok, Sawad, dan Abdul Ghoni harus menjalani proses hukum dan divonis seumur hidup di rumah tahanan negara. Seorang lagi, Umar Patek, dihukum 20 tahun penjara dan satu orang lainnya bernama Idris sudah bebas.

Pengejaran demi pengejaran yang dilakukan oleh Polri terhadap para pelaku, ujar Arief, banyak menyita waktu dan tenaga, khususnya pengejaran sosok spektakuler berwajah dingin berkebangsaan Malaysia, DR Azhari. “ Dia adalah kreator bom Bali dan bom-bom lain yang mengguncang Indonesia, maestro bom kesayangan Osama Bin Laden,” katanya.

Dengan mengerahkan seluruh kemampuan, pengejaran DR Azhari oleh Polri berlangsung hingga lebih dari tiga tahun. Akhirnya, peluru yang dimuntahkan oleh Tim Walet Hitam menembus dada Azhari dan menghentikan langkahnya seketika pada 2005.

Berita kematian otak peledakan bom itu mengundang decak kagum berbagai kalangan, dari dalam dan luar negeri. Namun, banyak juga yang bertanya-tanya, siapa sesungguhnya yang menembakan peluru ke dada DR Azhari. “Di lingkungan Polri sendiri, ketika dilontarkan pertanyaan tentang itu, hampir tidak ada yang tahu,” kata dia.

Arif pun mengungkapkan, pada Rabu, 9 November 2005, sekitar pukul 15.45 WIB, di sebuah rumah kontrakan Jalan Flamboyan A1, Nomor 7, Perumahan Flamboyan, Kelurahan Songgokerto, Batu, Jawa Timur, DR Azhari ditembak mati oleh pasukan terlatih. Sejak itulah Azhari yang dijuluki “Doktor Bom” itu tidak bisa lagi berkutik dan diyakini tidak akan ada lagi rancangan bom yang dibuat olehnya.

“Pasukan terlatih yang menembak mati DR Azhari itu adalah Tim Walet Hitam, yang jumlahnya 12 orang. Salah satunya, sebut saja bernama Frans. Nama samaran. Mereka melakukan penelitian mendalam, menyusun langkah demi langkah pada detik-detik penggerebegan DR Azhari di Vila Flamboyan. Dialah (Frans) sosok yang menembak DR Azhari,” ujarnya.

Sampai saat ini, kata Arif, Frans dan 11 rekan lainnya masih dinas aktif di Polri, namun tidak lagi dalam satu unit Crisis Response Team (CRT), seperti ketika menembak mati Azhari. Mereka merupakan angkatan pertama CRT atau disebut CRT I, yang dididik dan dilatih khusus untuk melawan teror dan kemampuan lain sebagai pendukung untuk misi tugas melawan terorisme. Saat ini Polri telah memiliki 20 angkatan CRT.

“Ini adalah pasukan sangat terlatih yang dimiliki Polri kala itu. Mereka selalu siaga kapan pun jika dibutuhkan. Hari-hariku selalu terjaga bersama mereka. Mereka ada di mana-mana dan berbaur dengan kehidupan sosial masyarakat untuk menjaga Indonesia,” ujar Arif.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE