Papua, Serambi Indonesia

Papua, Serambi Indonesia
Pengusaha nasional Rachmat Gobel (kanan) bersama Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya (kedua dari kiri). ( Foto: Beritasatu / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / HA Sabtu, 10 November 2018 | 21:31 WIB

Wellington - Papua adalah Serambi Indonesia. Merespons sinisme dunia, pemerintah sudah berkomitmen memberikan perhatian lebih besar kepada Papua. Tidak seperti pada masa lalu, pembangunan di Papua kini mengalami percepatan di segala bidang.

"Ruangan bagian depan Gedung KBRI, kami sulap dari ruang biasa menjadi ruang Papua. Ini merupakan jawaban pemerintah terhadap sinisme dunia bahwa Papua tertinggal, Papua tidak dibangun. Kita tunjukkan kepada dunia bahwa Papua kita bangun, bahkan kita jadikan Serambi Indonesia," kata Dubes Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, pada acara peresmian Graha Gorontalo dan sejumlah ruangan di KBRI di Wellington, Sabtu (10/11).

Graha Gorontalo dan sejumlah ruangan di KBRI diresmikan oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Bambang mengatakan, untuk mewujudkan keadilan sosial, pemerintah sudah menggulirkan BBM satu harga. Harga BBM di Papua di tingkat SPBU sudah sama dengan di Jawa. Akses untuk mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan sudah semakin baik. Di bidang infrastruktur, pemerintah sudah membangun jalan raya lebih dari 1.000 km di Papua.

Ruangan bagian depan, kata Dubes, sengaja diberikan untuk Papua agar menjadi ikon KBRI Selandia Baru. Setiap tamu yang masuk gedung KBRI pertama kali yang dilihat adalah ruangan Papua. Ini menunjukkan sikap pemerintah Indonesia yang memberikan perhatian lebih terhadap Papua.

Selain ruangan Papua, Ketua DPR meresmikan juga ruang tamu yang dinamakan ruangan Sriwijaya. "Ini bukan karena saya orang Palembang. Tapi, Sriwijaya dan Majapahit adalah kerajaan maritim terbesar masa lalu di Asia Tenggara hingga Asia Selatan yang pengaruh mencapai Tiongkok dan India," jelas Tantowi.

Ruangan makan yang belum dibangun akan dinamakan ruangan Mataram. "Mataram adalah representasi Jawa. Ruangan ini sedang dibangun," ujar Dubes.

Ada satu ruangan kecil di KBRI yang dirancang khusus untuk menampilkan foto presiden Indonesia, yakni Soekarno, Soeharto, BJ Habibie. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo. Presiden Indonesia, kata Tantowi, berasal dari berbagai kalangan, baik politisi, tentara, ilmuwan, alim ulama, Ibu rumah tangga, maupun pengusaha. Ini adalah keunggulan Indonesia karena sistem politiknya memberikan kesempatan kepada setiap anak bangsa untuk menjadi pemimpin.

Gedung KBRI Selandia Baru dibeli tahun 1983. Ketika dipercayakan menjadi dubes satu setengah tahun lalu, gedung ini langsung dipugar. Tantowi memberikan apresiasi kepada Chairman Panasonic Gobel Indonesia Rachmat Gobel yang sudah memberikan bantuan finansial untuk memugar gedung KBRI. Nama Graha Gorontalo diabadikan sebagai nama salah satu gedung yang pemugarannya mendapat dukungan finansial dari Rachmat.

Gorontalo adalah tempat asal Rachmat. Untuk memeriahkan peringatan 100 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Selandia Baru sekaligus peresmian Graha Gorontalo, Rachmat membawa para pengrajin dari Gorontalo dan para artis peraih Panasonic Awards ke Wellington. Hartini Maliki yang lazim disapa Nou, dari Gorontalo sempat memperagakan kebolehannya di KBRI menggoreng pisang dengan tangan di minyak yang sedang mendidih.

"Gorontalo juga menjadi ikon Indonesia," kata Tantowi. Menurut dia, setiap orang yang memberikan kontribusi terhadap perbaikan gedung dan ruangan KBRI akan mendapatkan apresiasi berupa pengabadian nama wilayah, etnik, atau orang.

Selain Ketua DPR Bambang Soesatyo, hadir juga pada kesempatan itu sejumlah anggota DPR RI, antara lain, Ketua Komisi III Akbar Faisal, anggota Komisi XI Misbakhun, anggota Komisi III DPR RI Masinton, dan staf ahli DPR RI Yorys Raweyai.

Persemian Graha Gorontalo, ruang Papua, dan ruang Sriwijaya di Gedung KBRI dihadiri oleh para mahasiswa Papua asal Indonesia, mahasiswa Indonesia lainnya, dan kalangan diaspora Indonesia. Dalam acara tanya-jawab dengan ketua DPR RI dan sejumlah narasumber dari Jakarta, tak ada pertanyaan dari mahasiswa. Dubes mengatakan, penjelasan tentang Indonesia sudah sering ia sampaikan. Ia yakin, mahasiswa asal Papua yang belajar di Selandia Baru sudah memiliki nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme yang tidak tergoyahkan.

Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya di depan Graha Gorontalo, KBRI Wellington, yang diresmikan 10 Nov. 2018. (Primus Dorimulu)



CLOSE