Jokowi: 2019 Saatnya Mempersiapkan SDM Hadapi Revolusi Industri 4.0

Jokowi: 2019 Saatnya Mempersiapkan SDM Hadapi Revolusi Industri 4.0
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan HB X melambaikan tangan seusai melakukan pertemuan di Keraton Yogyakarta, 6 Desember 2018. ( Foto: Antara / Wahyu Putro A )
Fuska Sani Evani / FMB Jumat, 7 Desember 2018 | 10:21 WIB

Yogyakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri resepsi milad satu abad Madrasah Muallimin-Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (6/12).

Turut hadir mendampingi Jokowi adalah Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, mantan Ketum Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, Menteri BUMN Rini Soemarno, Mensesneg Pratikno, dan tenaga ahli KSP Ali Mochtar Ngabalin.

Saat berbicara di hadapan ratusan santri, Jokowi menyinggung soal terbunuhnya para pekerja proyek jembatan Trans Papua di Kabupaten Nduga.

"Info terakhir yang saya dapat, ada 31 orang yang gugur, tetapi kejadian ini tidak akan menyurutkan pembangunan di Papua " kata Jokowi.

Namun menurut Presiden, peristiwa tersebut tidak akan menghalangi kelanjutan proyek pembangunan Trans Papua, sebab, Papua sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Warga Papua, harus menempuh perjalanan hingga tiga hari jika ingin pergi ke tempat lain, akibat kondisi jalan yang buruk.

Jokowi menjelaskan, pembangunan infrastruktur tidak hanya semata-mata untuk alasan ekonomi, namun juga berdampak di semua bidang. Kondisi geografis Indonesia membutuhkan konektivitas terpadu dan efisien dan akan berpengaruh pada pertukaran informasi antar daerah.

"Infrastruktur bukan hanya soal urusan ekonomi, tetapi juga persatuan bangsa," kata Jokowi.

Sementara itu, menurut Presiden, tahun depan, pemerintah akan menggeser strategi pembangunan ke bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Revolusi Industri 4.0 telah merubah lansekap semua bidang di dunia, tak terkecuali Indonesia yang ikut merasakan dampaknya, karena itu perubahan global menuntut manusia untuk bisa mengembangkan kemampuannya secara lebih luas.

"Kita sudah berada di era artificial intelligence, robotik, hingga virtual reality. Perubahan seperti ini harus kita ikuti," urai Jokowi.

Untuk itu, pemerintah akan berfokus pada pendidikan keahlian alias vokasi yang diterapkan lewat berbagai pelatihan (training) hingga pengembangan sekolah teknik.

Presiden juga menyatakan, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, sejak awal berdiri, sudah tampak megah di eranya. "Pada 1951 berubah lebih megah, 2008 juga megah. Nah yang nanti, belum saya lihat gambarnya. Pokoknya saya sudah perintahkan untuk secepatnya dimulai (pembangunan kampus baru)," tambah Jokowi.

Rencananya pembangunan kampus baru institusi pendidikan Muhammadiah berlokasi di daerah Kulonprogo dengan dukungan pembiayaan dari BUMN.

Ikut berbicara dalam resepsi milad, tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Maarif membantah anggapan tentang perhatian Presiden Jokowi yang kurang perhatian terhadap Islam.

"Jadi, kalau ada orang mengatakan ini Presiden kurang perhatian kepada Islam, saya kira hentikanlah cara-cara itu," kata Buya Syafii.

Presiden Joko Widodo merupakan Presiden RI yang pertama mengunjungi Madrasah Muallimin Muhammadiyah sejak didirikan oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan pada 1918 sebagai sekolah pencetak kader Muhammadiyah.

"Presiden Joko Widodo mungkin presiden pertama yang berkunjung ke Muallimin," tambah Buya. Buya Syafii juga mengapresiasi kesediaan Presiden yang pada akhir bulan lalu berkunjung ke Lamongan, Jawa Timur, untuk memberikan surat keputusan (SK) kepada beberapa perguruan milik Muhammadiyah sekaligus membuka Muktamar Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) di Surabaya.

Kehadiran Joko Widodo di Madrasah Muallimin Muhammadiyah, itu ujar Buya, bukan sebagai calon presiden, karena kalau sebagai capres tidak boleh masuk di lingkungan pendidikan.

“Tapi kalau Presiden boleh, itu aturan KPU dan Bawaslu," ucap Buya.

Dalam Milad 1 Abad Muallimin dan Muallimat bertema "Diaspora Kader Melintasi Zaman", Syafii Maarif menyatakan kehadiran Presiden adalah kehadiran negara untuk mendukung eksistensi Muhammadiah merupakan wujud mencerdaskan bangsa.

Menurut Buya Syafii kehadiran Muhammadiyah yang jauh lebih dahulu dari kemerdekaan bangsa menunjukkan kontribusi Muhammadiah tidak dapat dipungkiri lagi.

Buya Syafii Maarif yang juga merupakan lulusan Madrasah Muallimin pada 1956 itu mengatakan pemerintah lewat Kementerian BUMN akan ikut membantu pembangungan beberapa fasilitas pendidikan Muhammadiah. "Kalau negara melalui BUMN membantu Muhammadiah, itu relevan, karena sesuai UUD, kalau negara membantu Muhammadiah, berarti negara membantu dirinya sendiri," katanya.

Ketua PP Muhamadiah Haedar Nashir mengatakan momentum satu abad menjadi tonggak sejarah untuk melakukan tranformasi, menghadirkan kader yang punya karakter bukan sekadar menjadikan agama sebatas aksesoris.

"Indonesia, dan mayoritas Muslim meniscayakan hadirnya sumber daya manusia yang mencerdaskan, dan dari rahim Muallimin dan Muallimat harapan itu datang," katanya.

Usai acara, Presiden tampak semobil dengan Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X menuju Gedhong Jene Kompleks Kedhaton, Kraton Yogya, untuk melangsungkan pertemuan itu berlangsung tertutup.

Putri Pertama HB X GKR Mangkubumi mengatakan, Jokowi hanya singgah untuk makan jajanan pasar.

Setelah dari Kraton, Jokowi langsung menuju kampus Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Di Kampus ini Jokowi memberikan pernyataan terkait pertemuannya dengan HB X di Kraton.

Jokowi mengakui kedatangan ke Kraton merupakan pertemuan biasa, karena ia diajak HB X mampir ke Kraton. "Biasa, kita tadi pagi diajak pinarak (mampir), ke keraton, mengikuti beliau ke Kraton," katanya.

Namun Presiden mengakui bahwa Sri Sultan HB X dan dirinya, membahas sejumlah persoalan berkaitan dengan negara. "Kita di dalam hanya berbicara masalah berkaitan dengan ketatanegaraan, masalah manajemen negara, masalah berkaitan dengan konstitusi," ucapnya.

Jokowi mengaku sempat membicarakan terkait perkembangan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Tetapi pembicaraan itu dilakukan saat tiba di Bandara Adisutjipto, bukan saat bertemu di Kraton. "Waktu di airport kita omong bandara, progresnya bagus. Insha Allah tahun depan sudah bisa kita lihat barangnya," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE