Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto di dampingi Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono,SE, Kapolri Jendral Timur Pradopo dan Kepala BIN Letjen TNI Marciano Norman saat tiba di Bandara Mosez Kilangin Timika-Papua, Selasa (19/6).
"Kalau untuk selesaikan masalah Papua, itu tak cukup hanya dengan kegiatan seperti kunjungan kerja."

Menko Polhukam Djoko Suyanto sedang berkunjung ke Papua melaksanakan tugasnya menyelesaikan permasalahan di sana. Namun demikian, banyak pihak yang meragukan keefektifan dari langkah itu.

Untuk menanggapi kegiatan itu, Beritasatu.com mewawancarai Socratez Sofyan Yoman, seorang pendeta yang aktif melakukan advokasi keadilan serta antikekerasan di Papua. Melalui sambungan telepon dari Jakarta, Selasa (19/6) malam, demikian petikannya.

T: Apakah Anda mengikuti pertemuan dengan Menko Polhukam dan jajaran pemerintah pusat, Senin kemarin?

Saya tidak ikut, kebetulan sedang berada di luar Papua.

T: Kalau toh tidak ikut, apakah Anda bisa menilai pertemuan itu?

Kalau untuk selesaikan masalah Papua, itu tak cukup hanya dengan kegiatan seperti kunjungan kerja seperti itu. Karena tidak akan ada masalah diselesaikan. Itu justru memperpanjang penderitaaan masyarakat Papua. Solusi permanen adalah duduk berdialog antara rakyat Papua dengan pemerintah.

T: Jadi tidak akan meredam pelbagai permasalahan di Papua seperti ancaman separatisme, kekerasan, kecemburuan penduduk asli dan pendatang, kesenjangan ekonomi, bagi hasil kekayaan alam, korupsi birokrasi,  otonomi khusus hingga pemilu kada?

Bagi kami masalahnya adalah kenapa justru aparat Indonesia melakukan pembunuhan di sini? Semua harus tahu orang Papua tak pernah beda-bedakan orang. Silakan saja ada pendatang, itu tak pernah kita persoalkan.

Kita tak seperti di Jawa dimana orang bisa tutup gereja. Semua itu hanya isu yang dibuat dan dipakai oleh Jakarta untuk semakin menindas Papua.

T: Apakah Anda meyakini penembakan misterius yang terus terjadi belakangan ini hingga kematian Mako Tabuni di Sentani adalah agenda setting kelompok tertentu?

Itukan kita tahu siapa yang buat ribut Papua.

T: Apakah benar memang ada akumulasi kekecewaan dari kelompok OPM?

Salah, tidak ada itu OPM. Mereka justru berjuang untuk rakyat, untuk kemaslahatan martabat Papua. Tak mungkin melakukan hal seperti itu. Ada orang Jawa yang didatangkan ke Papua, kalau kami tak suka, kenapa tak ditolak sejak awal? Jadi ini memang sengaja diarahkan seperti itu supaya memojokkan orang Papua. Padahal kita semua sudah tahu siapa pelaku kekerasan kemanusiaan di Papua.

T: Apa benar peran internasional (lembaga/negara)  begitu massif untuk menggangu Tanah Papua agar lepas dari NKRI?

Papua itu tanpa dibantu internasional itu bisa berdiri sendiri. Masalahnya di sini kan rencana Pemerintah untuk Papua itu gagal, lalu selalu menyalahkan orang lain. Intinya Pemerintah gagal, kekerasan dilakukan. Itu taktik untuk lari dari tanggung jawab.

T: Bagaimana peran gereja dalam mengatasi gejolak sosial masyarakat di Papua? Apakah ada intimidasi dari aparat atau kelompok tertentu?

Kami itu selalu diintimidasi. Padahal apa salahnya kalau Gereja di Papua banyak dipercaya masyarakat? Mereka percaya seratus persen. Karena apa? Karena Gereja identik dengan Ibu, hidup, dan keamanan mereka.

T: Bagaimana intimidasinya?

Ya kita tahu bahwa nama saya masuk daftar mereka soal orang yang diwaspadai, ini bagian dari intimidasi itu. Tapi gereja itu didirikan oleh Tuhan, jadi gereja tak ada di bawah salah satu bendera. Dia berada di bawah bendera Yesus kristus. Kalau pemerintah memojokkan gereja, itu tak etis, apa maksud mereka? Pemerintah itu harus paha, ada tiga institusi diberikan oleh Allah, yakni adat, keluarga, dan gereja. Itu tak bisa diganggu gugat oleh negara. Tuhan ciptakan nilai keberadatan, keluarga, dan gereja untuk semua manusia. Itu tak bisa diganggu dengan apapun klaim-klaim pemerintah.

T: Kalau solusi yang ditawarkan Jakarta tidak juga menyejahterakan rakyat Papua apa tawaran dari Anda bagi masa depan Papua?

Dialog, apapun dan bagaimanapun, kita harus bicarakan bersama. Tapi saya tekankan harus dialog yang jujur.

T: Dialog seperti apa yang dimaksud?

Begini saja, sekarang ada dua pihak yang berkelahi. Sehingga perlu ada wasit. Kalau seandainya pemerintah memediasi, itu namanya lucu. Bagi kami, masa pembunuh jadi wasit? Sangat tidak masuk akal.

T: Saran Anda, siapa yang jadi wasitnya?

Ya kita sepakati saja. Misalnya oleh salah satu negara yang netral, atau NGO yang netral. Atau oleh salah satu tokoh seperti Kofi Annan. Atau Nelson Mandela juga bisa, walau saya tak tahu apakah dia masih kuat karena umurnya sudah tua. Dari dialog itu kita bisa menemukan solusi yang bermartabat.

T: Anda yakin dialog bisa selesaikan masalah?

Sekarang Indonesia sudah gagal di Papua, gagal untuk menghentikan kekerasan. Rakyat Papua juga sudah tak percaya lagi dengan Indonesia. Kalau dipaksakan dengan kekuatan militer, itu tak akan menyelesaikan masalah. Justru itu akan melahirkan kejahatan kemanusiaan yang luar biasa.

Penulis: