Ilustrasi kericuhan bentrok antar kelompok (FOTO ANTARA/Feri)
Delapan orang itu diduga kuat menjadi provokator dan pelaku pembakaran.

Polisi menangkap delapan orang yang diduga menjadi pelaku kerusuhan serta pembakaran dua ekskavator dan kamp milik perusahaan tambang emas di Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

"Polisi menahan delapan warga sebagai penegakan hukum," kata Kepala Polda Sulawesi Tengah Brigjen Dewa Parsana, hari ini.

Dewa Parsana tidak menyebutkan identitas delapan orang yang ditangkap pada Rabu siang itu. Delapan orang itu diduga kuat menjadi provokator dan pelaku pembakaran dua ekskavator, sebuah kamp milik perusahaan tambang emas, dan sejumlah rumah saat terjadi kerusuhan pada Selasa (17/7).

Kerusuhan itu dipicu oleh PT Cahaya Manunggal Abadi yang segera melakukan eksploitasi di atas lahan 500 hektare perkebunan cengkih milik warga.

Warga dari 18 desa yang ada di dua kecamatan bersatu dan menduduki lahan untuk mencegah masuknya pekerja PT Cahaya Manunggal Abadi.

Aksi tersebut sudah terjadi beberapa kali dalam satu bulan ini. Hingga Rabu siang, satu warga dilaporkan meninggal dunia saat melakukan aksi karena terkena tembakan polisi.

Berdasarkan penuturan warga, ada lima orang yang menjadi korban penembakan polisi.

Dewa Parsana sendiri mengaku tidak mendapat laporan dari Polres Donggala mengenai adanya korban penembakan atau korban meninggal dunia.

Sementara Kapolres Donggala AKBP Dicky Arianto membantah adanya korban penembakan warga di Kecamatan Balaesang Tanjung. "Tidak ada penembakan. Saya di sini. Situasi terakhir alhamdulillah kondusif," katanya.

Sementara itu Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah segera melakukan pengusutan terkait adanya laporan korban tembak di Kecamatan Balaesang Tanjung.

Penulis: