Direktur Program Imparsial Al Araf (kanan)
Kementerian Pertahanan tampak mulai tidak sabar dengan sejumlah kalangan yang meributkan proyek pengadaan sejumlah alat utama persenjataan (alutsista).
 
Bahkan, model-model ancaman dan tekanan politik kepada pihak yang mengkritisi proyek-proyek itupun mulai bermunculan.
 
Salah satunya diakui oleh Direktur Program LSM Imparsial, Al Araf, yang juga  dosen di Universitas Pertahanan (Unhan) milik Kementerian  Pertahanan.
 
Al Araf mengungkapkan dirinya dilarang mengajar oleh pimpinan Universitas Pertahanan.
 
"Keputusan pihak kampus melarang untuk mengajar saya duga terkait kritik  saya soal pembelian jet Sukhoi dan tank Leopard. Sebab, ketika ditanyakan soal keputusan tersebut, rektor dan pimpinan kampus hanya bilang 'ini arahan dan perintah pimpinan'," kata Al Araf di Jakarta,  Kamis (19/7).
 
Selain dilarang mengajar, kata Al Araf, dirinya juga dilarang untuk  memberikan bimbingan tesis kepada mahasiswa.

Padahal, Al Araf saat ini tengah menjadi pembimbing dua mahasiswa Universitas Pertahanan yang sedang menyusun tesis.
 
"Terkait aktivitas saya di Imparsial, belum lama saya juga ditegur oleh  rektor dan dekan Universitas Pertahanan setelah mereka ditelepon oleh  Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Teguran itu juga terkait kritik  terhadap pembelian Sukhoi dan Leopard," tutur Al Araf.
 
Seperti diketahui, rencana pembelian Sukhoi dan Leopard dikritik habis-habisan oleh aktivis dan anggota DPR. Bila pembelian Sukhoi dikritik karena adanya dugaan mark-up harga, pembelian tank Leopard digugat karena dianggap alat-alat itu sebenarnya tak dibutuhkan Indonesia.

Penulis: