Ilustrasi Ketupat
Sebuah kisah sejati yang turun temurun diceritakan masyarakat.



Piwulang adalah sebuah kosa kata bahasa Jawa, yang secara sederhana bisa diartikan sebuah pelajaran yang diajarkan secara pararel dengan tingkah laku. Seperti pepatah Jawa 'ilmu iku kelakone kanti laku', bahwa kita bisa memahami sebuah ilmu kehidupan apabila tidak berhenti hanya di dalam teori tapi juga dijalankan dalam perilaku keseharian kita.

Terkait dengan piwulang, Sunan Bonang punya banyak kisah yang dapat ditelisik ilmu sejarah namun sebagian laginya hanyalah cerita dari mulut ke mulut dan menjadi mitos.

Seperti yang dikutip situs NU Online, sebuah kisah tentang Ramadan terdapat piwulang yang diajarkan Sunan Bonang yang tercatat sebagai guru dari Sunan Kalijaga. Sunan Bonang dikenal sebagai pendakwah yang selalu mengedepankan kesejukan dan kedamaian sesuai dengan semangat dasar filosofi Islam, rahmatan lil alamin atau rahmat bagi semesta.

Jadi dalam berdakwah pun selalu mengakrabi kebudayaan masyarakat yang ada, tanpa kehilangan esensinya, hingga terjadi dialektika dan bahkan memberikan nuansa makna yang lebih kaya, seperti piwulang dalam berpuasa, melalui simbol budaya Jawa.

Setelah berpuasa dan berlebaran ada tradisi ketupat kalau dalam bahasa Jawa namanya 'kupat'. Menurut Sunan Bonang, kita harus berpuasa dengan ikhlas dan hanya mencari rida Tuhan agar setelah puasa bisa menikmati kupat. 'Kupat' merupakan makanan khas saat lebaran yang saat ini juga dapat dinikmati dalam keseharian. Kupat berisi nasi putih yang di masak di dalam janur. 'Janur' di sini adalah daun kelapa yang masih muda.

Kupat adalah singkatan dari laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan. Yaitu: lebar, lebur, luber, dan labur.

Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan Labur berarti bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah dan hatinya.

Manusia akan bisa meraih 'laku sing papat' jika bisa bersikap dan berperilaku lembut dan santun terhadap sesama umat tetapi sekaligus tegas dan berani melawan ketidakadilan. Masing-masing hati nurani yang dapat menentukan apakah berpuasa untuk meraih “laku sing papat” ataukah hanya sekedar basa-basi agar tercitrakan sebagai orang yang saleh.

Dan Janur, sebagai bungkus mempunyai makna atau simbol sebagai sejatinung nur. Cahaya yang sejati. Semua anugerah, bisa menjadi labur, bercahaya wajah dan hatinya, karena mendapat limpahan cahaya yang sejati dari Tuhan. Sebagai perwujudan sifat Maha Pengasih dan Penyayang. Menjadikan jiwa kita merasakan kebahagiaan yang hakiki. Sebuah kebahagiaan yang akan tercapai jika kita suka berbagi ke sesama manusia. Menjadi insan yang rahmatan lil alamin. Rahmat bagi semesta, memuliakan manusia tanpa memandang suku, agama, dan ras.

Karena dalam perintah ibadah apapun akan selalu ada 2 wajah Islam. Yaitu wajah Islam yang profetik ritual dan juga wajah Islam dengan dimensi kesalehan secara sosial. Ada dimensi mikro kosmos dan makrokosmos, vertikal dan horizontal. Dan ini tak bisa terpisahkan.

Seperti  ibadah puasa ini, mereka yang menjalankan dan mencapai 'laku sing papat' adalah mereka yang tawadhu', jauh dari kesombongan, dan tidak mau bersikap sewenang-wenang atau melanggar hak orang lain seperti korupsi misalnya, baik korupsi materi maupun korupsi perilaku. Dan juga berani memperjuangkan keadilan, karena keberanian memperjuangkan keadilan adalah bagian dari iman.

Semoga piwulang dari Sunan Bonang ini selalu menginspirasi kita dan dapat kita implementasikan dalam puasa-puasa kita yang tentunya tidak hanya dijalankan saat bulan Ramadan saja. Juga cara-cara berdakwah beliau yang mentoleransi bahkan mengakrabi budaya masyarakat, tidak di jalankan dengan cara-cara kekerasan seperti yang dipraktekkan beberapa ormas Islam .

Penulis: /FMB

Sumber:www.nu.or.id