Pekerja menyelesaikan pembangunan sarana penunjang Stadion Utama Riau, Pekanbaru. Stadion tersebut akan digunakan lokasi pembukaan PON XVIII/2012 pada 9 September mendatang.
Anggota Komisi X DPR, Dedi 'Miing' Gumelar, mengaku malu dan tersinggung dengan adanya pernyataan di persidangan soal ada anggota DPR menerima dana Rp9 miliar sebagai suap dana PON 2012 Riau.

Miing mengatakan dirinya tidak harus merasa malu dan marah apabila suap itu memang benar karena dia yakin dirinya sama sekali tak terkait.

"Saya hanya merasa keberatan dan merasa dirugikan apabila itu dilakukan mengatasnamakan Komisi X. Jadi anggota komisi yang kena getahnya gara-gara oknum tersebut," kata Miing di Jakarta, Kamis (2/8).

Miing mengaku sama sekali tidak mengetahui soal adanya aliran dana suap itu. Dia juga merasa yakin tidak mungkin suap itu diserahkan untuk Komisi X secara keseluruhan.

"Saya merasa keberatan dan tidak tahu menahu kalau itu dialamatkan kepada Komisi X secara keseluruhan. Penerimanya sudah jelas dan fraksinya juga sudah jelas. Berarti itu bukan urusan komisi," kata Miing.

Dalam sidang korupsi PON, di Pekanbaru, Riau, Kamis (2/8), terungkap Komisi X DPR RI menerima uang Rp9 miliar.

Dana itu diberikan Pemprov Riau untuk meloloskan anggaran APBN.

Pernyataan itu diungkapkan Lukman Abbas sebagai saksi dengan terdakwa Eka Dharma.

Lukman, yang statusnya juga tersangka kasus itu, menjelaskan pihaknya memberikan uang ke Komisi X DPR, untuk meloloskan mata anggaran APBN untuk PON Riau senilai Rp250 miliar.

"Tapi sampai sekarang anggaran itu sendiri tidak pernah turun. Tapi kita sudah terlanjur memberikan ke Komisi X DPR sebanyak Rp9 miliar," kata Lukman.

Lukman menjelaskan, uang itu diberikan langsung ke Jakarta, diantar supirnya ke DPR dan diterima oleh Kahar Muzakir, anggota Komisi X dari Fraksi Partai Golkar.

Dana Rp9 miliar itu dikumpulkan dari 4 BUMN yang menggarap proyek venue, yakni Adhi Karya, Wijaya Karya, Pembangunan Perumahan, dan Waskita Karya.


Penulis: