Ilustrasi: Banyak pengangguran di dunia yang tidak mendapatkan tunjangan sosial
Menariknya jumlah penduduk miskin di Sultra justru mengalami penurunan.

Jumlah pengangguran di Sulawesi Tenggara yang tersebar di 10 wilayah kabupaten dan dua kota, dalam kurun waktu satu tahun terakhir meningkat, yakni dari 32.453 tahun 2011, menjadi 33.906 orang pada Mei 2012.

"Meningkatnya jumlah pengangguran di daerah ini, karena sektor pertambangan yang menjadi primadona, mengalami penurunan produktivitas dan sebagian memberhentikan karyawan," kata Asisten Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sultra, Ferry Tumpal D Saribu.

Angka ini terungkap pada Review Kajian Ekonomi Regional Sultra Triwulan II tahun 2012 di Kendari.

Kendati begitu jumlah penduduk miskin di Sultra mengalami penurunan, yakni dari 14,61 persen tahun 2011 menjadi 13,71 persen dari total angkatan kerja sebanyak 1.060.235 pada Mei 2012.

"Ini artinya, meski angka pengangguran meningkat namun kegiatan perekonomian Sultra mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan," imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sultra, Ilham Latif mengatakan, meningkatnya angka pengangguran di Sultra akibat kebijakan pemerintah yang memberlakukan peraturan menteri (permen) Eenergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nomor 7 tahun 2012 tentang larangan ekspor bahan tambang dalam bentuk mentah.

"Jumlah pencari kerja di Sultra meningkat tajam, setelah Permen ESDM nomor 7 tahun 2012 tentang larangan ekspor bahan tambang dalam bentuk mentah efektif diberlakukan," katanya.

Menurut Ilham, sejak Permen Nomor 7 tahun 2012 diberlakukan, sudah ribuan orang karyawan perusahaan tambang nikel di Sultra yang terkena PHK.

Namun sebagian besar perusahaan tambang yang melakukan PHK terhadap karyawan tersebut tidak melaporkannya kepada pihak Dinas Tenaga Kerja.

"Angka pasti jumlah karyawan perusahaan tambang nikel yang terkena PHK pascapemberlakuan Permen Nomor 7 tahun 2012, kami tidak tahu, namun perkiraan jumlah pencari kerja di Sultra saat ini sudah membengak mencapai 34.000 orang lebih," katanya.

Di wilayah Provinsi Sultra ada sekitar 300 perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan nikel.

Dari jumlah perusahaan tersebut, yang memiliki industri pengolahan nikel hanya satu, yakni PT Aneka Tambang Tbk.

Beberapa perusahaan seperti PT Trias Jaya Agung, PT Billy Gorup dan PT Kharisma Anugera Barakah di Pulau Kabaena baru berencana mendirikan industri pengolahan nikel di tahun 2012 ini. Untuk mengurangi beban perusahaan, sejumlah perusahaan tersebut sudah mem-PHK ratusan karyawannya.
-

Penulis: