Foto udara sebuah kawasan penebangan di kawasan hutan penyangga dekat Taman Nasional Bukit Tigapuluh di sekitar perbatasan provinsi Riau dan Jambi.
Dalam pidato kenegaraanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan beberapa permasalahan lingkungan.

Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengatakan, trend kerusakan lingkungan di Indonesia saat ini cukup meningkat sejak otonomi daerah.

"Kalau berbicara soal isu lingkungan yang mencuat, hal utama terkait dengan kerusakan lingkungan dan masalah perijinan yang berkaitan dengan otonomi daerah. Kami sudah menyampaikan hal tersebut kepada Presiden," kata Balthasar, di Jakarta, Jumat (17/8).

Dalam pidato kenegaraanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan beberapa permasalahan lingkungan dan dampak negatif perubahan iklim di banyak negara.

Selain itu, Presiden juga mengatakan tentang agenda pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan yang muncul di Forum KTT Rio+20 dengan memastikan tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia tanpa harus merusak lingkungan.

"Keberlanjutan pembangunan untuk semua—manusia dan lingkungan hidup—telah menjadi komitmen kita bersama sebagai warga dunia. Untuk menggalang solidaritas global, tiga tahun lalu saya menyampaikan komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca  secara sukarela sebesar 26 persen dari proyeksi emisi negara kita di tahun 2020," jelas Presiden Yudhoyono.

Sebagai penjabaran dari komitmen itu, lanjutnya, Pemerintah menerbitkan Rencana Aksi Nasional untuk pengurangan Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), yang akan dilakukan di lima sektor utama yaitu kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri, dan limbah.

Selain itu, untuk meningkatkan daya dukung lingkungan telah dilakukan penanaman satu milyar pohon setiap tahunnya.

Presiden Yudhoyono juga menegaskan kembali kerangka dasar pembangunan pada empat pilar utama, pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment.

Penulis: