Wahyu Susilo, adik kandung penyair Wiji Thukul yang hingga kini masih hilang.
Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul memiliki kenangan sendiri tentang sosok Thukul

Wiji Thukul, penyair asal Solo itu hingga kini masih hilang. Ia bersama 12 aktivis lainnya menjadi korban penghilangan paksa rezim orde baru. Sajak-sajaknya menjadi larik wajib di kalangan demonstran yang turun kejalan. Penggalan sajak "Peringatan" berbunyi: Hanya ada satu kata: lawan, begitu masyhur sejak diciptakan tahun 1986 hingga saat ini penulisnya tak jelas nasibnya.

Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul memiliki kenangan sendiri tentang sosok Thukul. Kemarin, saat Thukul memperingati ulang tahun ke 49, ia berkicau di jagad twitter melalui akun @wahyususilo. Wahyu sekarang bekerja sebagai analis buruh migran di Migrant Care yang juga alumni Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini juga mantan aktivis PRD Solo. Kicauan Wahyu Perot, begitu biasa dipanggil itu kami sarikan isi kicauannya menjadi sebuah tulisan pendek.

***
Aku mengingat secara utuh Kangmas Wiji Thukul saat aku masih SD dan dia SMP. Panggilan ejekannya Kincer (maaf, karena kedua matanya besarnya tidak sama). Kegiatan berorganisasi pertama Wiji Thukul ikut Mudika (Muda-mudi Katolik) utamanya koor atau paduan suara. Kadang-kadang ikut Karang Taruna. Seperti anak kecil lainnya, Wiji Thukul juga suka main gambar umbul, kelereng (nekeran). Kadang sembunyi-sembunyi main cliwik (dadu jawa) dan kiyu-kiyu.

Minggu pagi kayak gini, biasanya aku diajak ikut ke kapel untuk misa pagi. Aku disuruhnya bawa Madah Bhakti, dia ternyata bawa buku bacaan. Buku bacaannya Kho Ping Hoo atau komik yang dipinjam dari persewaan buku. Aku protes, kok gak pernah baww buku Madah Bhakti? Soalnya tebel. Dengan enteng Wiji Thukul jawab: "kan aku anggota koor, sudah apal lagunya". Oya Madah Bhakti itu buku kumpulan lagu dan doa untuk misa Katolik.  Kalo tiba gilirannya nyanyi di koor kapel, Wiji Thukul biasanya bangun lebih pagi berangkat ke kapel. Koor kadang-kadang diringi organ Yanuar Nugroho. Wiji Thukul, aku dan Yanuar Nugroho dulu kalo misa di kapel yang sama. Kapel tersebut menggunakan aula SD Kanisius Sorogenen Solo. Kami satu sekolah.

Walau ortu sekolahkan kami ke Kanisius, kami bukan dari keluarga berkecukupan, bapak sopir becak, ibu kadang-kadang jualan ayam bumbu. Sejak kecil kami juga harus meringankan beban ortu untuk tambahan biaya sekolah. Sejak SMP Thukul cari tambahan biaya jadi calo tiket bioskop. Bioskop-bioskop yang dicalo'in Thukul: Remaja Theater dan Kartika Theater. Dua bioskop ini sekarang tak ada, sudah jadi kelurahan dan PGS Beteng Solo. Tentu Thukul tak pernah lupa sisain tiket untuk adiknya. Biasanya film Chin Kuan Chin/ Chin Kuan Tai. Syaratnya kalau untung nyalonya.

Kadang kalo kayak lebaran gini, Thukul juga jualan mainan di Maleman Sriwedari, aku ikut bantuin. Mainan yang dijual parasit-parasitan plastik. Nah kalo ada untung banyak dari jualan saat Lebaran, Thukul baru berani menyisihkan uangnya untuk main cliwik, puteran, kiyu2, jemeh. Thukul kenal teater dari Mudika, saat siapkan pentas Natalan. Kayaknya dulu ngebet ikut teater karena ada cewek yang ditaksirnya. Di teater Mudika Thukul kenal Jantit, Suprapto, Supardi dan pelatihnya Cempe Wisesa Lawuwarta (aktor Bengkel Teater asuhan Rendra). Mereka inilah yang merupakan cikal bakal Teater Jagat (Jagalan Timur), tempat pertama Kangmas dalam berkesenian dengan nama Wiji Thukul.

Bukan hal yang aneh kalo di teater (sekarang diikuti di film, nyanyi) nama bisa berganti sebagai nama berkesenian. Demikian juga Kangmas.Terlahir dengan nama Wiji Widodo, setidaknya dia berganti tiga nama saat berteater hingga berpuisi. Hingga akhirnya menjadi Wiji Thukul. Nama pertama yang dipake saat berteater Jagat: Inu Kertapati. Keren kan? Tapi dia jengah karena diledhek terus: kok koyo kethoprakan. Kemudian memilih nama Wiji Thukul Wijaya. Kadang juga sering pakai Jikul. Agak lama pake nama WTW ini di beberapa kali pentas Teater Jagat. Akhirnya nama Wijaya dibuang, ketika nama itu dikritik berbau feodal hehe. Itu setelah banyak kumpul dengan seniman kritis seperti Halim HD. Pilihan berkesenian Kangmas mempengaruhi saat memilih sekolah selepas SMPN 8 Solo. Dia memilih sekolah di SMKI Solo di Kepatihan. SMKI: Sekolah Menengah Karawitan Indonesia. Dia pilih jurusan Tari. Pasti pada gak pernah tau kalau Thukul bisa nari gemulai. Eh gak taunya anak'e Thukul, Fajar Merrah juga melu jejak Pakne sekolah neng SMKI (sekarang SMKN 8) jurusan musik. Gitarannya yahud lho.

Tapi Thukul hanya nyampe sekolah kelas 2 SMKI. Gak betah dan gak mau bebani biaya ortu yang masih nyekolahin 2 adiknya. Dia cari kerja.Aku ingat dia bilang padaku: Rot, pak'e wis tuwek wis kurang tenogone nggo mbecak. Aku tak golek duwit wae, sekolahmu wae sing tutuk. Dia selalu panggil aku Perot, panggilan kecilku. Dia kerja sebagai tukang plitur di daerah Kratonan Solo. Tapi tetap aktif berteater bahkan mengajak teman-temannya sekerja main teater juga.

Thukul mulai aktif nulis puisi juga saat berteater. Puisi-puisi awalnya dibacakan dalam acara apresiasi sastra Radio PTPN, radio kondang solo. Pengasuh acara puisi Radio PTPN: Tinuk Rosalia (sekarang Tinuk Yampolsky)- saat itu mahasiswa Fakultas Sastra UNS-, penulis novel Candik Ala 65. Jangan bayangkan puisi-puisi Thukul saat itu menggelora seperti yang dikenal sekarang. Ada yang galau, melankolik dan absurd lho.

Aku pernah coba ikut-ikutan kirim puisi ke PTPN, terus Mbak Tinuk bocorin ke Thukul. Eh akhirnya Thukul tahu dan aku dimarahi Thukul. Kayaknya seumur hidup hanya sekali itu dimarahi Thukul. Saat marah dia bilang: Kowe ojo dadi pengekor. Makanya saat aku lulus SMA, walau milih Fakultas Sastra tapi masuk Jurusan Sejarah, takut disemprot lagi. Padahal senang sastra. Aku juga beruntung saat masuk kuliah. Karena sejak SMP, Thukul punya hobi berburu buku loak di Alun-alun Lor dan mburi Sriwedari. Banyak buku-buku langka koleksi Thukul berguna membantu pengkayaan kuliahku di jurusan Sejarah, sepert buku Boeke tentang teori masyarakat dualisme.
 
Thukul sebenarnya punya naluri bisnis lho. Tahun 1986 ramai-ramai Piala Dunia Meksiko. Dia punya inisiatif ngloper koran yang beritakan piala dunia. Sepanjang Piala Dunia '86 dapat banyak untung dari jual koran dan tabloid, utamanya BOLA dan Tribun Olahraga. Setelah itu aku dan Thukul ketagihan ngloper koran/ tabloid/majalah secara reguler. Pemasukan terbesar dari penjualan tabloid MONITOR.

Asyik ngloper tak membuat Thukul lupa berkesenian/ terutama berpuisi. Bahkan makin banyak tahu alamat media baru untuk  dikirimi puisi. Puisi-puisi Thukul selain dikirim ke Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Wawasan, Bernas, Swadesi dan Simponi juga ke tabloid Mutiara dan Nova. Kadang Thukul juga nulis esai sastra atau acara kebudayaan di Surabaya Post dan ke Harian Kompas, saat itu ada TJO kode Sudjiwotedjo.

Mungkin karena produktifitas itu, kepala biro Solo harian Muhammadiyah MASAKINI, MT Arifin menawarinya menjadi koresponden Solo. Hanya 1/2 tahun Thukul betah di MASAKINI. Gaji lancar 3 bln, 3 bulan gak digaji. Maka sepeda inventaris diminta paksa Thukul sebagai ganti gaji. Dan kayaknya umur MASAKINI tak lebih dari 2th, terus berganti ADIL juga tak lama bertahan. Selepas itu Thukul mulai masuk kancah politik.

Saat itu aku sudah mahasiswa. Tahu politik tapi masih suka kegiatan "dekaden", jadi panitia musik rock siang bolong atau slalom test. Kali ini Thukul nggak marah (tapi nggondok mungkin), lihat aku pake kaos panitia rock siang bolong, dia kasih aku selebaran KedungOmbo. Eh malunya saat itu. untuk  diketahui kegiatan utama mahasiswa th 80an: pentas rock atau slalom test dengan sponsor rokok.

Penulis: