Presiden SBY saat teleconference dengan komunitas diaspora Indonesia.



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa pengganti Millenium Development Goals adalah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang memiliki agenda utama mengurangi kemiskinan dunia. Program baru ini harus dikukuhkan bulan Mei 2013.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam konferensi video antara tiga pemimpin bersama High Level Panel of Eminent Persons untuk membahas paska MDGs 2015 yang berlangsung malam ini, Rabu (29/8).

SBY adalah satu pemimpin bersama dengan Perdana Menteri Inggris Raya David Cameron dan Presiden Liberia Ellen Johson-Sirleaf. Wakil Sekretaris Jenderal PBB Jan Eliasson bertindak sebagai moderator dalam video konferensi ini.

Para pemimpin bersama sepakat untuk merumuskan program paska MDGs program yang lebih berkelanjutan. MDGs akan tuntas pada tahun 2015.

”Tujuan dari Sustainable Development Agenda untuk mengurangi secara signifikan kemiskinan sedunia sehingga bisa meningkatkan taraf hidup bangsa-bangsa di dunia dengan cara melaksanakan pembangunan yang disebut dengan sustainable development,” ujar SBY dalam keterangan pers usai konferensi video di Bina Graha, Rabu malam (29/8).

Konferensi berlangsung serentak di empat tempat yaitu Jakarta (Indonesia), Monrovia (Liberia), London (Inggris) dan New York (Amerika Serikat).

Di dalam telekonferensi ini para pemimpin bersama saling menyampaikan masukan dan pandangan masing-masing yang kemudian mereka diskusikan bersama.

Menurut SBY, pandangan Indonesia dengan Inggris Raya dan Liberia memiliki banyak kesamaan.

Untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan, kata SBY, diperlukan sumber daya yang tepat. Ia pun mengusulkan untuk bisa mencapainya diperlukan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.

”Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang memperhatikan aspek-aspek pemerataan dan keadilan,” kata SBY.

Oleh karena itu di dalam konferensi tadi, para pemimpin bersama berikut wakil Sekjen PBB membahas perumusan bagaimana agar tujuan tersebut bisa tercapai dengan target yang tepat.

Menurutnya, proses perumusan ini hanya memiliki waktu delapan bulan mulai dari September hingga Mei 2013 yang diharapkan bisa memberikan hasil nyata program baru paska MDGs.

Untuk itu, ketiga pemimpin bersama berikut 23 anggota Panel Tingkat tinggi lainnya yang berasal dari berbagai macam negara dan juga keahlian akan mengadakan lima pertemuan untuk menyusun mekanisme dan mencapai hasil bersama-sama.

Pertemuan pertama akan berlangsung di Markas PBB di New York, Amerika Serikat akhir September ini diikuti dengan pertemuan ketiga dimana Indonesia akan menjadi tuan rumah sekitar akhir November. Kemudian, pertemuan kedua akan berlangsung di Monrovia, Liberia pada bulan Januari 2013 dan London, Inggris pada bulan Maret 213. Pertemuan terakhir kembali diadakan di Markas PBB di New York.

”Kami akan menyerahkan hasil kerja untuk selanjutnya akan dikukuhkan menjadi pengganti MDGs yang akan jatuh tempo,” kata SBY.

Pemerintah pun akan membentuk tim khusus yang akan bekerja agar tercapai target waktu bulan Mei 2013 bisa tercapai.

”Agar Mei tahun depan bisa rampung untuk kebaikan umat manusia di seluruh dunia ini,” ujarnya.

Konferensi video dibuka oleh wakil Sekretaris Jenderal  PBB Jan Eliasson yang bertindak sebagai moderator. Indonesia mendapatkan kesempatan pertama untuk menyampaikan visi dan pandangan diikuti oleh Liberia dan Inggris. Kemudian keempat perwakilan ini pun melakukan diskusi bersama melalui video.

Pada kesempatan ini SBY didampingi oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, Menteri Pendidikan Muhammad Nuh, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, Menteri Kehutana Zulkifli Hasan, Wakil Menteri Luar Negeri Wardhana, Sekertaris Kabinet Dipo Alam, Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto dan Utusan Khusus RI untuk MDGs Nila Moeloek.

Penulis: