Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa
Kawasan Karawang memiliki banyak industri sehingga membutuhkan infrastruktur memadai.

Pemerintah akan melihat rencana pengembangan Soekarno-Hatta sebelum memutuskan untuk membangun bandara di Karawang Jawa Barat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Menurut Hatta, meski rencana pembangunan bandara di Karawang tersebut sudah santer terdengar, sejatinya pembahasan dan koordinasi antara tim Metropolitan Priority Area (MPA) dari Jepang dan pemerintah Indonesia belumlah final.

“Ini kan berawal dari studi MPA yang melihat kawasan itu berpotensi mengembangkan pelabuhan baru di Cilamaya pembangunan cluster industri terpadu, serta potensi pembangunan bandara. Tapi studi yang digarap oleh tim MPA Jepang dalam rangka koridor kerjasama Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan ini belum dibahas dan dikoordinasikan dengan pemerintah Indonesia,” katanya di Jakarta, hari ini.

Hatta mengatakan, kontroversi tentang pembangunan bandara memang sudah diketahui pemerintah namun pihaknya belum dapat bersikap apa-apa, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang telah melempar wacana pembangunan bandara tersebut juga belum melakukan pembahasahan tersebut.

Meski begitu, menurut Hatta, jika memang akan dibangun bandara di lokasi tersebut, pemerintah tentu saja akan membahas mengenai tata ruang maupun detail teknis serta dampak sosialnya.

“Sekarang tata ruangnya saja belum ada karena Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Barat misalnya lebih menetapkan pelabuhan di Kertajati yang akan dikembangkan sebagai pelabuhan yang berbasis kepada logistik,” ujarnya.

Hatta juga mengakui jika kawasan Karawang yang memiliki banyak industri membutuhkan infrastruktur yang memadai untuk membantu transportasi industri, namun melihat yang ada saat ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang membawahi tentang bandara yaitu PT Angkasa Pura (AP) baru memikirkan perluasan bandara Soekarno Hatta, baik terminal maupun penambahan runway ketiga sehingga dapat mengakomodir hingga 100 juta penumpang.

“Sekarang kan belum 60 juta penumpang. Memang diakui Cengkareng (Soekaro-Hatta) ada batasnya, karena lahannya terbatas, pemukiman dan industri berkembang, makanya aksesbilitasnya harus dilengkapi komuter karena jalan tol dulu desain awalmya dipersembahkan untuk bandara, sementara sekarang banyak pemukiman yang berkembang di sekitar situ,” tuturnya.

Penulis: