Sejumlah prajurit TNI AU memeriksa pilot pesawat Cessna 208, Michael A. Boyd, usai pendaratan paksa (force down) pesawat tersebut di Base Ops Lanud TNI AU Sepinggan, Balikpapan, Minggu (30/9). Pesawat buatan Amerika Serikat dengan nomor registrasi N354RM itu diduga masuk ke wilayah Indonesia tanpa dokumen resmi. FOTO ANTARA/Lanud Balikpapan/Athaillah Wahid/ss/Spt/12
"Lama atau tidaknya ditahan, tergantung pihak perusahaan menyelesaikan mengurus izin melintas di wilayah udara Indonesia."

Pesawat sipil Amerika Serikat yang dipaksa mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, hingga Senin sore masih ditahan di Landasan Udara TNI Angkatan Udara.

Komandan Landasan Udara Balikpapan, Kolonel Pnb Djoko Senoputro, dihubungi dari Samarinda, Senin (1/10) menyatakan, pesawat sipil jenis Cessna 208 dengan nomor penerbangan N354RM itu masih diamankan di hangar Lanud Balikpapan.

"Sampai saat ini, pesawat tersebut masih kami amankan di Lanud Balikpapan," kata Djoko.

Pesawat Cessna dengan pilot Michael A Boyd (53) itu dipaksa mendarat oleh dua pesawat tempur milik TNI AU dari Skadron 11 Makassar, Sulawesi Selatan, di Bandara Sepinggan Balikpapan, pada Minggu (30/9) karena tidak memiliki izin melintas di wilayah udara Indonesia.

Boyd juga masih diamankan di mess milik Lanud Balikpapan.

"Kami tetap memperlakukan dengan baik dan saat ini Michael A Boyd masih dikarantina di mess Lanud. Lama atau tidaknya ditahan, tergantung pihak perusahaan menyelesaikan mengurus izin melintas di wilayah udara Indonesia," katanya.

Tidak ditemukan benda ataupun barang mencurigakan pada pesawat Cessna 208 itu. Pesawat tanpa penumpang itu hanya berisi perlengkapan penerbangan, pakaian dan sebuah kamera.

"TIdak ada benda mencurigakan yang ditemukan dari pesawat itu. Begitu pula kamera tidak ada hal yang mencurigakan. Saat ini proses pemeriksaan sudah selesai dan tinggal menunggu pengurusan izin penerbangan melintas di wilayah udara Indonesia dari pihak perusahaan," katanya.

Pesawat itu sebelumnya terbang dari Wichita, Amerika Serikat kemudian sempat singgah di Santa Maria California, Honolulu, Korsje dan terakhir di Singapura, dengan tujuan akhir Papua.

"Pesawat tersebut akan dioperasikan di Wilayah Papua oleh perusahaan Hawker Pasifik Jet milik PT Rajawali Dirgantara Mandiri. Namun karena tidak memiliki izin terbang di wilayah udara Indonesia yang seharusnya melewati jalur udara Philipina dan Malaysia sehingga pesawat tersebut dipaksa mendarat," kata Djoko.

Penulis: