Ilustrasi
Pelaksanaan hujan buatan di Kalteng sudah menghabiskan puluhan ribu kilogram garam yang ditabur ke udara

PALANGKA RAYA. Dampak kebakaran lahan dan hutan terus menjadi-jadi dan terus meluas di semua Kabupaten di Kalimantan Tengah (Kalteng), sedangkan hujan turun tidak terjadi selama 10 hari terakhir yang membuat kabut asap bertambah pekat.

Pelaksanaan hujan buatan di Kalteng sudah menghabiskan puluhan ribu kilogram garam yang ditabur ke udara. Sayangnya, upaya tersebut belum juga berhasil memecahkan awan untuk mendorong terjadinya hujan.

Sejak awal pelaksanaan operasi pembuatan hujan buatan di provinsi ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menghabiskan sebanyak 36.800 kilogram garam.

"Sudah 36.800 kilogram garam telah dihabiskan untuk pembuatan hujan buatan di Kalteng ini. Sebanyak 47 sorti dilakukan dengan kapasitas 800 kilogram garam dalam setiap sorti," kata koordinator lapangan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Budi Harsoyo di Palangka Raya, hari ini.

Dikatakannya, selama upaya operasi TMC atau pembuatan hujan buatan tersebut, pihaknya dua kali tidak dapat melaksanakan operasi karena kendala kabut asap dan tiga kali karena potensi awan comulus tidak ada.

Pesawat Casa 212 milik TNI Angkatan Udara yang digunakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk operasi teknologi modifikasi cuaca sempat terkendala kabut asap pekat.

“Pesawat tidak bisa terbang pada Senin (1/10) lalu karena jarak pandang di landasan pacu sangat pendek akibat kabut asap yang memang sangat pekat sejak pagi,” ujarnya.

Akibat jarak pandang yang pendek terhalang kabut asap yang pekat serta kelembaban udara di sekitar bandara tersebut maka diputuskan untuk tidak melakukan sorti atau penerbangan.

Operasi pembuatan hujan buatan rencananya berakhir pada Sabtu (6/10), namun karena ada kegiatan Hari Pangan Sedunia tingkat nasional di Palangka Raya, yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga pembuatan hujan buatan diperpanjang sampai 18 Oktober.


Penulis: