Nama Puan Maharani belum Menjual di Publik

Puan Maharani (Antara)

Oleh: | Minggu, 7 Oktober 2012 | 18:01 WIB
Puan Maharani, putri Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas merupakan nama yang termasuk diembuskan partainya sebagai bakal calon presiden/wapres 2014.

Meski PDIP mulai memunculkan peran Puan lebih luas ke publik, tidak demikian menurut penilaian para ahli melalui  survei yang dilakukan Pol-Tracking Institute yang diumumkan hari ini.
 
"Puan Maharani yang merupakan turunan Megawati belum memberikan pengaruh  signifikan," demikian Direktur Eksekutif Pol-Tracking Hanta Yudha AR di Jakarta, Minggu (7/10).
 
Dari 35 nama calon muda yang menjadi objek survei, lima nama berasal dari PDIP yaitu Joko Widodo, Pramono Anung Wibowo, Budiman Sudjatmiko, Maruarar Sirait dan Puan Maharani.

Dari 13 aspek yang dinilai oleh seratus responden berkategori pakar, akademisi dan aktivis, nama Puan di bawah rekan-rekannya. Hanya pada aspek penerimaan partai lah Puan Maharani mengungguli Budiman dan Maruarar, namun masih di bawah Joko Widodo dan Pramono Anung.
 
Sedangkan pada 12 aspek yang lain, nama Puan selalu di bawah empat kader partainya itu.
 
Dalam survei itu, Joko Widodo selain mendapat ranking paling bagus dari 13 aspek  yang disurvei lembaga ini juga dianggap sebagai tokoh yang tudak hanya  paling diterima publik namun juga partai politik. Gubernur DKI Jakarta  terpilih ini dicatat sebagai tokoh seimbang.
 
Pol-Tracking sendiri menyatakan mereka mengeluarkan survei ini untuk  memberikan alternatif calon potensial pada pemilu dua tahun mendatang.  Pasalnya di luar nama yang digadang-gadang partai dianggap masih banyak  calon potensial.
 
"Garis partai politik masih mengajukan nama-nama lama," kata Agung Baskoro, salah seorang peneliti lembaga itu.
 
Padahal, menurutnya, publik sudah mulai jenuh dengan figur yang bolak-balik dijagokan partai namun tak menyumbang perubahan. Dia mengatakan,  pihaknya memang sengaja membatas responden hanya pada pakar karena mereka ini dianggap paling mengikuti dan mengetahui perkembangan politik. Hasil penilaian para pakar itu kemudian bisa dijadikan  informasi bagi publik luas.
 
Tigapuluh lima nama yang dinilai oleh seratus pakar dan para intelektual  yang berasal dari nonpartai politik (parpol) dan parpol itu yakni, Joko Widodo, Anies Baswedan, Sri Mulyani Indrawati, Pramono Anung  Wibowo, Anas Urbaningrum, Khofifah Indar Parawansa, Anis Matta, Priyo Budi Santoso, Lukman Hakim Saifudin, Ferry Mursyidan Baldan, Budiman Sudjatmiko, Chairul Tandjung, Sandiaga Uno, Luhfi Hasan Ishaaq, Gita Wirjawan, Yuddy Chrisnandy, Fadli Zon, Tifatul Sembiring, Irman Gusman, Jeffrie Geovanie, Romahurmuziy, Andi Mallarangeng, Idrus Marham, Yenny Wahid, Zulkifli Hasan, Fadjroel Rahman, Maruarar Sirait, Harry Tanoesoedibjo, Muhaimin Iskandar, Taufik Kurniawan, Puan Maharani, Ahmad Muzani, Rizal Mallarangeng, Akbar Faisal, dan Patrice Rio Capella.




Sumber:
ARTIKEL TERKAIT