Tim penyelamat melakukan evakuasi di reruntuhan Pesawat temput TNI AU Hawk  di Kampar, Riau. FOTO: AFP
Letkol Robert berlari ke arah seorang jurnalis dan langsung posisi menendang.

Meminta kasus penganiayaan terhadap jurnalis oleh aparat TNI-AU, pekan lalu, segera diinvestigasi, sejumlah jurnalis yang tergabung dalam berbagai kelompok jurnalis dan juga jurnalis korban kekerasan pagi ini mendatangi kantor Komnas HAM, Jakpus.

Tiga korban pemukulan oleh anggota TNI-AU bernama Letkol Robert Simanjuntak pada saat melakukan peliputan jatuhnya pesawat Hawk 200 pada 16 Oktober lalu juga hadir datang langsung dari Pekanbaru, Riau, untuk mengadukan kasus penganiayaan yang menimpa mereka.

Diterima langsung oleh salah satu komisioner Komnas HAM Ridha Saleh, salah satu korban penganiayan, Didik Herwanto, salah satu pewarta foto dari Riau Pos langsung menceritakan kronologis terjadinya pemukulan tersebut.

“Pada hari itu, Selasa, 16 Oktober, saya baru mau mandi memulai aktivitas, tiba-tiba dengar suara ledakan, ternyata di luar sudah sangat aneh, kemudian saya keluar, lokasi kejadian waktu itu hanya 300 meter dari kos saya,” kata Didik saat memulai kronologisnya, hari ini.

Didik menceritakan, pada saat dirinya mendekati lokasi ledakan tersebut, di sekitar lokasi belum terlihat adanya satu pun anggota TNI-AU. Dirinya pun sepintas sempat melihat parasut yang digunakan pilot, dan pada saat itu dirinya langsung mengambil gambar selama kurang lebih 20 menit.

“Pada saat mengambil gambar itu, tiba-tiba mereka (anggota TNI-AU) tersebut berteriak “minggir, minggir ada bom di situ”. Saya langsung berjalan 50 meter menjauhi, tidak lama kemudian ada tulisan rescue, saya pikir bagus ini untuk background,” sebutnya.

Ketika dia mengambil gambar tersebut, tidak lama Letkol Robert, berlari ke arah dirinya dan langsung dengan posisi menendang.

“Saya menghindar, tetapi saya tiba-tiba dibanting, saya mau dibawa ke mobil, saya dihantam sekali lalu dirampas kamera saya, tidak lama saya langsung diinjak-injak oleh lebih dari sepuluh anggota Paskhas (Pasukan Khusus), itu yang memicu adalah Letkol Robert Simanjuntak itu,” ceritanya.

Didik sempat mendengar ancaman yang keluar dari perkataan Letkol Robert yakni “Kamu orang mati, malah kamu ambil gambarnya, kalau sampai panjang kasusnya, dapat alamatmu, habis kamu!”

Diakui Didik, hingga saat ini, meskipun sudah ada permintaan maaf dari Letkol Robert, kamera miliknya belum dikembalikan padahal kondisinya sudah rusak, dan sudah dijanjikan untuk mengganti kerusakan tersebut.

Salah satu korban lain, Fakhri Rubbianto, salah satu kameramen dari RiauTV, juga mengaku sempat merekam kejadian selama kurang lebih dua menit, sebelum akhirnya dirinya juga mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari anggota TNI-AU tersebut.

“Kami bertiga ini hanya beberapa saja dari belasan korban, ada belasan wartawan dan warga yang juga mengalami kekerasan verbal dan fisik, ada juga yang diseret-seret, kita lihat ini sebagai pengekangan terhadap HAM,” kata Rubbi.

Robbi menceritakan, penganiayaan yang dilakukan aparat keamanan bukanlah yang pertama kali terjadi. Pasalnya, pada 2006 dirinya juga pernah mengalami hal serupa.

“Saya saat itu langsung melarikan diri, saya berpikir yang terpenting selamat dulu. Tapi tetap mereka berhasil menangkap saya dari belakang, kerah belakang saya ditarik dan langsung dipukul,” papar Robbi.

Usai kejadian tersebut, para korban langsung berkumpul dan sepakat untuk melapor kejadian tersebut kepada pihak-pihak terkait termasuk mendatangi Komnas HAM.

Keberadaan para korban yang didampingi kelompok perserikatan jurnalis tersebut di Jakarta sejak hari Minggu lalu adalah untuk menggalang dukungan dan juga melakukan pelaporan terkait penganiayaan tersebut.

“Nanti jam 1, kita mau ke Dewan Pers untuk mengadukan hal yang sama,” kata FB Anggoro, salah satu pewarta foto Antara yang juga menjadi korban penganiayaan.

Penulis: