Anggota TNI  lokasi ledakan bom yang terjadi di Tentena, Poso, pada May 2005. FOTO: EPA
Densus 88 Antiteror dan TNI menggerebek persembunyian teroris, pagi ini.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Dewa Parsana mengemukakan, jenazah terduga teroris berinitial J yang tewas dalam baku tembak dengan personel Polri dan TNI di Desa Kalora, Poso, Rabu pagi, akan diterbangkan ke Jakarta.

"Jenazah akan diotopsi di Rumah Sakit Polri Jakarta," katanya kepada ANTARA melalui telepon dari Poso, hari ini.

Kapolda Dewa Parsana berada di lokasi saat personel Densus 88 Antiteror bersama anggota TNI menggerebek rumah persembunyian para terduga teroris di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, sekitar 50 km utara Poso, Rabu sekitar pukul 05.30 WITA.

Menurut Kapolda, selain J, polisi juga menangkap lima orang lainnya. Mereka sedang menjalani pemeriksaan di sebuah tempat di Poso. Kapolda juga membenarkan bahwa dalam penggerebekan itu, polisi juga menemukan 10 buah bom siap ledak dan sepucuk pistol.

"Situasi di lokasi kejadian sudah kembali normal. Arus lalu lintas di jalan Trans Sulawesi itu juga kembali berjalan lancar, namun polisi masih sedang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP)," ujarnya.

Dewa Parsana memberikan apresiasi kepada masyarakat dan pemerintah Kecamatan Poso Pesisir Utara dan Desa Kalora serta desa-desa sekitarnya yang memberikan dukungan kepada aparat dalam melakukan penggerebekan tempat persembunyian teroris itu.

"Saat penggerebekan itu, camat dan kepala desanya datang dan memberikan dukungan kepada tindakan polisi karena tindakan para terduga teroris itu telah merusak citra dan nama baik desa yang selama ini terkenal aman dan warganya rukun," ujar Dewa Parsana.

Kapolda juga mengemukakan bahwa situasi jalan trans Sulawesi di wilayah Poso tetap aman untuk dilewati, jadi masyarakat tidak perlu khawatir untuk melintas di jalur itu.

Menanggapi kritikan berbagai pihak yang menilai polisi lambat dalam menangani kasus-kasus terorisme di Poso, Kapolda Dewa Parsana meminta pengertian warga bahwa penanganan terorismen di Poso ini membutuhkan pendalaman agar tindakan penegakkan hukumnya tidak salah sasaran/target dan masyarakat sekitar tetap aman.

"Mohon dimaklumi bahwa mereka yang dihadapi itu adalah orang-orang yang mempunyai keyakinan dan juga bersenjata. Jadi kita harus cukup hati-hati, menganalisis secara mendalam sebelum bertindak agar masyarakat sektiar tetap aman dan target tidak salah," tukasnya.

Penulis: