logo Partai Gerindra
Penurunan Demokrat akibat pemberitaan kader-kader Demokrat yang terlibat megakorupsi.

Indonesia Network Elections Survey
(INES) menyebut popularitas Partai Demokrat pada pemilu 2014 turun drastis, ketimbang 2009 silam. Partai pendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu hanya berada di posisi kelima dengan raihan 8,4 persen. Sedangkan posisi pertama dikuasai Partai Golkar (22,1 persen), selanjutnya PDI Perjuangan (7,4 persen), Gerindra (14,3 persen) PAN (9,7 persen), Nasdem (5,2 persen), PPP (4,4 persen), Hanura (3,8 persen), PKS (4,7 persen) dan terakhir PKB (2,9 persen).

Hasil tersebut didapat berdasarkan survei INES bekerja sama dengan Serikat Pekerja BUMN Bersatu, pada 5-21 Oktober 2012, kepada 600 responden di seluruh Indonesia, yang memiliki hak pilih, yakni berusia 17 tahun atau lebih. Survei memiliki margin of error lebih kurang 2,5 persen, dengan tingkat kepercayaan 98 persen.

Direktur Data dan Survei INES, Sudrajat Sacawitra mengungkapkan bahwa menurunnya popularitas Demokrat, disebabkan banyaknya kasus korupsi yang menjerat kader partai tersebut. "Penurunan Demokrat akibat pemberitaan kader-kader Demokrat yang terlibat megakorupsi. Kasus-kasus itu mempengaruhi elektabilitas Partai Demokrat," ujarnya di Jakarta, Senin (19/11).

Sementara peningkatan elektabilitas Partai Golkar, ujarnya, lebih disebabkan dengan kuatnya struktur di lapangan. "Sedangkan peningkatan elektabilitas PAN, disebabkan ketokohan Hatta Rajasa, yang sekaligus Menko Perekonomian," ujarnya.

Soal kandidat calon presiden, isu primodialisme dalam keterpilihan seorang calon presiden dinilai INES masih sangat kuat. Sebanyak 59,3 persen responden masih memilih figur presiden dari etnis Jawa. Sedangkna sekitar 56,2 persen mendambakan pasangan capres-cawapres dari etnis Jawa - non Jawa.

"Untuk tokoh capres dari etnis Jawa yang disukai responden adalah Prabowo Subianto dengan dukungan 33,4 persen responden, diikuti Megawati Soekarnoputri dengan 22,2 persen. Sementara tokoh cawapres luar Jawa yang kuat adalah Hatta Radjasa dengan 28,6 persen, diikuti Jusuf Kalla dengan 20,2 persen dukungan responden," ujar Sudrajat.

Penulis: