Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama IPB, Anas Miftah Fauzi saat menanam batu pertama berdirinya Pusat Informasi Kehutanan IPB di Kampus, Dramaga, Bogor, Rabu (28/11). (beritasatu.com/Firdha Novialita)
Isu keragaman hayati, konservasi, dan global climate change, diprediksi akan terus hadir sebagai isu kehutanan di tahun 2013 mendatang.

Hal ini pun menuntut lembaga pendidikan seperti IPB (Institut Pertanian Bogor) untuk aktif memainkan peranannya.

"Variasinya akan tetap saja, seperti keragaman hayati, konservasi, kemudian juga global climate change. Di samping itu ada faktor-faktor lain, misalnya illegal logging, akan muncul lagi, (juga) kebakaran dan kelautan," ungkap Bambang Hero Saharjo, Guru Besar bidang Perlindungan Hutan IPB, kepada Beritasatu.com, Rabu (28/11), seusai acara peletakan batu pertama berdirinya Pusat Informasi Kehutanan di IPB, Bogor.

Sehubungan dengan itu, terkait aspek kegiatan mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB sendiri yaitu pendidikan pengajaran dan pengabdian masyarakat, Bambang menjelaskan sejauh ini ada banyak sumber yang bisa mereka manfaatkan.

"Untuk pendidikan pengajaran, tentu saja dengan cara kita, (yaitu) dengan buku dan pengetahuan yang kita miliki, plus tambahan informasi dari luar," katanya.

Bambang pun menjelaskan, bahkan ketika tamu dari berbagai negara datang (ke IPB), mereka dapat pula melakukan sharing informasi berbagai ilmu kepada mahasiswa IPB.

"Misalkan tamu dari Korea, apa bidangnya. Seperti tanggal 30 nanti, akan ada seminar dengan pembicara dari luar. (Itu) Kita sharing. Jadi mahasiswa kita tahu, mereka begini, kita begini," ungkapnya.

Dengan cara itu, kata Bambang, pengetahuan mahasiswa mau tidak mau akan bertambah, sekaligus mereka pun dapat lebih mengerti perbedaan (masalah kehutanan) di iklim subtropis dan tropis.

"Karena subtropis dan tropis ada deltanya, tidak terlalu nyambung. Kadang mereka memaksakan apa yang ada di subtropis dengan di tropis. Kan tidak bisa," ujarnya.

Sementara itu, sehubungan dengan pengabdian masyarakat, IPB sendiri khususnya Fakultas Kehutanan, menurut Bambang, juga punya cara untuk membantu pemerintah sekaligus memberdayakan lingkungan masyarakat.

"Kami (misalnya) menyarankan (masyarakat untuk) tidak menggunakan bahan bakar yang menimbulkan gas rumah kaca, tetapi dengan memanfaatkan hutan tanaman," katanya.

Hal itu menurut Bambang, antara lain diterapkan dalam penggunaan biomassa untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik, terutama di wilayah-wilayah seperti Nias, Halmahera, serta Sumba.

"Kan di sana kekurangan bahan bakar. Tapi, bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan listrik. Harus cari alternatif lain," ungkapnya.

Lebih jauh menurutnya, lahan yang ada di sekitar masyarakat pun sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menanam tumbuhan yang produktif, yang lalu digunakan untuk membangkitkan listrik. "Itu sudah terjadi di beberapa daerah. Salah satuna (di) Bangka Belitung," ujarnya.

Bambang mengatakan, kontribusi mahasiswa yang senantiasa terjun langsung dalam praktik kehidupan itu, pun pada akhirnya berpengaruh pada bangkitnya minat mahasiswa untuk kuliah di Fakultas Kehutanan IPB, yang total kini mencatatkan sekitar 2.000 mahasiswa.

"(Itu) Setiap tahunnya bertambah, makin lama makin banyak. Tahun ini yang mendaftar Fakultas Kehutanan 1.800 orang, (padahal) kita maksimal hanya bisa menerima 360 orang. Mau tidak mau, kami harus tambah lagi, tambah lagi," ungkapnya.

Untuk diketahui, Yayasan Tanoto Foundation dan IPB, hari ini memang kembali menandai kerja sama demi meningkatkan kualitas pendidikan mahasiswa IPB, khususnya di sektor kehutanan. Kali ini, dengan penyediaan gedung pusat informasi di kampus tersebut.

Gedung bernama Tanoto Foundation Information Center (TFIC) ini merupakan kontribusi yang dibangun atas dana hibah Yayasan Tanoto Foundation senilai Rp8,36 miliar, yang rencananya terdiri atas tiga lantai.

Disebutkan, TFIC-IPB ini berkonsep eco-building, yang dibangun di area kampus IPB Dramaga, dengan posisi strategis, dekat dengan ruang kuliah serta asrama mahasiswanya.

Penulis: