Tim Densus 88 saat melakukan pengakapan teroris di Poso, Sulawesi Tengah. FOTO: AFP PHOTO / OLAGONDRONK
Dia lagi patroli di Kalora (Poso) dan ditembak

Kepala Biro Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Mabes Polri, Kombes Pol Agus Rianto di Jakarta, mengatakan tiga anggota Brimob tewas ditembak oleh orang tak dikenal di Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (20/12), sekitar pukul 10.00 WITA.

Ketiga anggota Brimob yang tewas ditembak itu bernama Briptu Wayan, Briptu Narto dan Briptu Ruslan saat ini dibawa ke Rumah Sakit Umum  Daerah (RSUD) Poso.
 
Sebelumnya Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Dewa Parsana membenarkan jika salah seorang anggota Brimob Mabes Polri, bernama Ruslan, tewas tertembak di Poso, Sulawesi Tengah, hari ini.
 
"Benar, satu anggota Brimob tewas tertembak dalam baku tembak dengan  kelompok teroris. Infonya satu orang terduga teroris berhasil kita  tangkap. Datanya nanti menyusul," kata Dewa saat dihubungi dari Jakarta,  Rabu (20/12) siang.
 
"Dia lagi patroli di Kalora (Poso) dan ditembak. Ada juga satu anggota  Brimob yang terluka," imbuh seorang anggota Brimob, rekan korban.
 
Penembakan ini diduga imbas dari perburuan jaringan teroris Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) di bawah kendali Santoso. Buronan wahid polisi ini diduga bertanggungjawab terhadap pembunuhan dua anggota polisi yang hilang di Poso sejak 8 Oktober dan sejumlah teror lainnya di wilayah itu.
 
Gelombang pertama peleton tempur Brimob Kelapa Dua, Depok, yang  berkualifikasi Gerilya Anti Gerilya (GAG), pun dikirimkan ke Poso, sejak 30 Oktober lalu dari Jakarta.
 
Mereka ini adalah tim elite milik Brimob, selain tim lain yakni CRT  (Crisis Respond Team) yang berkualifikasi andal di medan perkotaan.
 
Seperti diketahui, dua anggota polisi  ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan pada 16 Oktober lalu, berada di lokasi latihan jaringan teroris yang disebut polisi terkait dengan JAT (Jamaah Anshoru Tauhid).
 
Hanya saja, JAT telah membantah keras tudingan itu.
 
Kedua personel itu hilang di sekitar Tamanjeka, Poso, kawasan yang bersama dengan Gunung Biru dikenal sebagai basis teroris.
 
Bahkan, Santoso sendiri telah mengirimkan surat yang berisi tantangan  kepada Densus 88/Antiteror untuk perang secara terbuka, dan menyiapkan  sejumlah ranjau di lokasi. Beberapa ranjau rakitan itu telah ditemukan  polisi di lokasi.
 
Santoso adalah buron kasus teror nomor wahid saat ini. Namanya selalu  muncul dalam setiap pengungkapan kasus terorisme. Santoso adalah bagian  dari jaringan Abu Tholut alias Mustafa yang diyakini polisi merupakan  panglima perang JAT.
 
Nama Santoso kembali muncul pada Senin (8/10), saat Densus 88/Mabes  Polri menangkap buron teror bernama Imron di Palu, Sulteng, tak jauh  dari Poso.
 
Imron merupakan lulusan Pondok Pesantren (Ponpes) Darussaadah, Boyolali,  Jawa Tengah. Ponpes ini adalah tempat di mana salah satu aktor pelaku  bunuh diri dalam Bom Bali 2005 bernama Salik Firdaus, menuntut ilmu.
 
Sejak Oktober lalu, kondisi Poso, Sulteng makin memanas. Teror demi teror dengan sasaran aparat kepolisian terus terjadi.

Penulis: