ilustrasi penangkapan teroris di Poso (AFP)
Satu pelaku berhasil ditangkap dan delapan orang kabur. Satu senjata api SS milik Brimob dirampas pelaku.

Mabes Polri menyatakan jika level keamanan di Poso, Sulawesi Tengah, ditingkatkan menjadi siaga satu pasca baku tembak dengan kelompok teroris  di sekitar Gunung Kalora, Tambarana.
 
"Kita akan evaluasi apa saja (persiapan patroli), yang perlu diperbaiki  soal teknis dan taktis. Otomatis (naik ke level) siaga 1. Apalagi ini  kan ada senjata yang dibawa (pelaku). Tidak perlu diperintahkan (naik),  akan naik," kata Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes  Polri Kamis (20/12).
 
Peristiwa bermula saat Brimob regu Den Sulteng yang berpatroli.  Tiba-tiba kelompok bersenjata api menyerang. Tiga anggota Brimob  tewas.
 
"Ada satu pelaku yang berhasil ditangkap dan delapan orang melarikan  diri. Satu senjata api SS milik anggota Brimob dirampas pelaku," tambah  Boy.
 
Mereka yang tewas yakni Briptu Wayan tertembak di dada, Briptu Ruslan di kepala, dan Briptu Narto di dada.
 
Sedangkan tiga orang yaitu Briptu Eko, Briptu Siswandi, dan Briptu Lungguh terkena luka tembak, namun masih bisa diselamatkan.
 
Perburuan jaringan teroris Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) di bawah  kendali Santoso yang diduga bertanggungjawab terhadap pembunuhan dua  anggota polisi yang hilang di Poso sejak 8 Oktober dan sejumlah teror  lainnya, memang terus dilakukan polisi.
 
Gelombang pertama peleton tempur Brimob Kelapa Dua, Depok, yang  berkualifikasi Gerilya Anti Gerilya (GAG), pun dikirimkan ke Poso,  Selasa (30/10), dari Jakarta.
 
Mereka ini adalah tim elite milik Brimob, selain tim lain yakni CRT  (Crisis Respond Team) yang berkualifikasi andal di medan perkotaan.
 
Seperti diketahui, dua anggota polisi itu ditemukan dengan kondisi yang  mengenaskan pada Selasa (16/10), berada di lokasi latihan jaringan  teroris yang disebut polisi terkait dengan JAT (Jamaah Anshoru Tauhid). Hanya saja, JAT telah membantah keras tudingan itu.
 
Kedua personel itu hilang di sekitar Tamanjeka, Poso, kawasan yang bersama dengan Gunung Biru dikenal sebagai basis teroris.
 
Bahkan, Santoso telah mengirimkan surat yang berisi tantangan  kepada Densus 88/Antiteror untuk perang secara terbuka, dan menyiapkan  sejumlah ranjau di lokasi. Beberapa ranjau rakitan itu telah ditemukan  polisi di lokasi.
 
Santoso adalah buron kasus teror nomor wahid saat ini. Namanya selalu  muncul dalam setiap pengungkapan kasus terorisme. Santoso adalah bagian  dari jaringan Abu Tholut alias Mustafa yang diyakini polisi merupakan  panglima perang JAT.
 
Nama Santoso kembali muncul pada Senin (8/10), saat Densus 88/Mabes  Polri menangkap buron teror bernama Imron di Palu, Sulteng, tak jauh  dari Poso.
 
Imron merupakan lulusan Pondok Pesantren (Ponpes) Darussaadah, Boyolali,  Jawa Tengah. Ponpes ini adalah tempat di mana salah satu aktor pelaku  bunuh diri dalam Bom Bali 2005 bernama Salik Firdaus, menuntut ilmu.  Sejak Oktober lalu kondisi Poso terus memanas.

Penulis: /WEB