Kekerasan Terhadap Jurnalis di Papua Melonjak

Kekerasan Terhadap Jurnalis di Papua Melonjak
Aksi menolak kekerasan pers (Ilustrasi) ( Foto: Antara )
Jumat, 28 Desember 2012 | 11:31 WIB
Tahun 2011 lalu hanya ada tujuh kasus kekerasaan terhadap jurnalis di Papua.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jayapura, Papua mencatat terjadi 12 kasus kekerasan atau intimidasi terhadap wartawan di Papua dan Papua Barat. Jumlah ini mengalami peningkatan siginifikasi ditahun sebelumnya, di mana pada tahun 2011 lalu hanya ada tujuh kasus.
 
“Di tahun 2011,  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura  hanya mencatat tujuh kasus. Sementara ditahun 2012 ada 12 kasus. Tingkat kekerasannya lebih tinggi dari tahun lalu, dimana adanya upaya pembunuhan terhadap jurnalis di Papua dan Papua Barat," kata Ketua AJI Biro Kota Jayapura, Victor Mambor saat memberikan keterangan pers, Kamis (27/12).

Dia mengatakan sepanjang tahun 2012 kekerasan terhadap wartawan lebih banyak dilakukan polisi. Empat kasus dilakukan polisi, tiga kasus oleh masyarakat sipil dimana tiga diantaranya dilakukan secara berkelompok, satu kasus TNI dan tiga kasus dilakukan pejabat publik.

Adapun 12 kasus kekerasan atau intimidasi yang menimpa wartawan di Papua dan Papua Barat yakni, menghalang-halangi wartawan meliput sidang Forkurus Yoboisembut Cs di Pangadilan Negeri Klas IA Jayapura, Kota Jayapura, Papua, 8 Februari 2012 lalu. Intimidasi fisik, yaitu penarikan dari ruangan sidang serta penggeledahan kepada wartawan saat memasuki area sidang. Pelaku diidentifikasi sebagai anggota Polres Kota Jayapura, berinisial AKP KK.

Korban lain adalah Katarina Litha (Radio KBR 68 H Jakarta, Roberth Vanwi (Suara Pembaruan Jakarta), Jorsul Sattuan (TV One), Irfan (Bintang Papua) dan Cunding Levi (Tempo).

Kasus kedua, dialami wartawan Cahaya Papua, Wartawan Radang Sorong dan wartawan Media Papua Paskalis, sepanjang Februari-MEI 2012 di Papua Barat. Pelaku adalah oknum Polres Manokwari yang menghalangi pemberitaan terkait aspirasi tuntutan dialog dan referendum di Papua.

Ketiga wartawan lokal di Papua Barat itu mengaku, ditekan saat menulis berita kritis tentang politik, hukum dan pelanggaran HAM serta tahanan politik. Salah satunya wartawan Cahaya Papua di Monokwari, mengatakan kepadanya bahwa redaksi menginstruksikan agar pemberitaan kritis terkait politik, hukum dan pelanggaran HAM serta tahanan politik dan pemberitaan kritis lainnya sebaiknya dibatasi atau tidak usah diliput.

Kasus ketiga, terjadi di Abepura, Kota Jayapura, 20 Maret 2012. Korban adalah Josrul Sattuan (TV One), Marcel (Media Indonesia), Irfan (Bintang Papua) dan Andi Iriani (Radio KBR 68 H Jakarta). Pelaku diidentifikasi oknum massa aksi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dimana massa melempari sejumlah jurnalis yang sedang meliput aksi massa KNPB di Kantor Pos Abepura.

Ditempat terpisah tepatnya di Polimak, Kota Jayapura, wartawan Papua Pos, Tumbur Gultom ditanyai ratusan massa terkait identitasnya. Ketika dia menjawab sebagai wartawan Papua Pos, massa tidak percaya dan mengambil balok lalu mengejar korban. Gultom berhasil melarikan diri dengan bersembunyi di salah satu rumah warga.

Kasus kelima, menimpa tiga wartawan yang ada di Kabupaten Jayapura yakni Yance (Radio Kenambai Umbai), Putu (KBR 68 H Jakarta) dan Suparti (Cenderawasih Pos). Ketiganya diintimidasi secera verbal dan dikejar oleh oknum massa aksi KNPB, 20 Maret 2012.   

Kasus keenam, dialami wartawan TV One, Josrul Sattuan. Korban dipukul Orang Tak Dikenal (OTK) saat sedang mengambil gambar situasi Kota Jayapura pasca serangkaian kasus kekerasan dan teror penembakan di wilayah Kota Jayapura. Kejadian pemukulan itu terjadi di wilayah Lingkaran Abepura, Jayapura, Kamis malam (7/6).

Kasus ketujuh, dialami wartawan Metro TV yang ada di Manokwari, Papua Barat, Abdul Muin, Senin (11/6/2012). Pelaku adalah anggota Penyidik Dinas Perikanan Papua Barat, Zulkifli yang mengintimidasi korban dengan pistol Air Soft Gun.

Kasus kedelapan, terjadi di Timika pada 20 September 2012. Korban adalah Muhammad Yamin (Kontributor RCTI), Simson Sambuari (Kotributor Metro TV), Husyen Opa (Salam Papua-Kotributor foto Antara), dan David Lalang (Salam Papua). Pelaku adalah oknum petugas Syabandar Pelabuhan Pamako Timika. Pelaku mengintimidasi dengan cara melarang para wartawan ini untuk mengabadikan momen di sekitar pelabuhan Pamako.

Kasus kesembilan, menimpa Oktovianus Pogau wartawan suarapapua.com dan stringer The Jakarta Globe. Kasus ini terjadi di Manokwari, Papua Barat, 22 Oktober 2012. Okto dipikul oleh oknum polisi berseragam dan juga berbaju preman saat bentrok polisi dengan aktivis KNPB di Manokwari. Korban dianggap sebagai bagian dari massa yang berdemo, meski korban sudah menunjukkan identitas wartawan.

Kasus kesepuluh, dialami Sayied Syech Boften, wartawan Papua Barat Pos, 1 November 2012. Pelaku diidentifikasi sebagai Ketua DPRD Kabupaten Raja Ampat, Hendrik G Wairara. Korban diancam, diintimidasi. Pelaku juga menfitnah profesi wartawan via telepon. Korban diintimidasi agar menghentikan pemberitaan kasus dugaan  korupsi proyek pengadaan genset, perluasan jaringan listrik, pengadaan BBM dan pemeliharaan mesin di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Di hari yang sama ajudan Ketua DPRD ini megamuk di kantor Redaksi Papua Barat Pos.

Kasus ke-11 terjadi 8 November 2012. Korban adalah Esau Miram, wartawan Cenderawasih Pos. Pelaku oknum TNI XVII Cenderawasih. Intimidasi yang dilakukan pelaku terhadap korban saat akan meliput acara ramah tamah Pangdam XVII Cenderawasih bersama seluruh kepala daerah se-Papua di aula Tony Rompis dengan menyebut korban teroris saat akan melapor dan izin untuk meliput. Padahal Esau sudah memperlihatkan ID Card wartawan.

Kasus terakhir terjadi pada 1 Desember 2012. Korban adalah wartawan tabloidjubi.com, Benny Mawel. Korban diintrogasi oleh oknum anggota Polisi  dari Polda Papua di sekitar Lingkaran Abepura saat meliput puluhan massa demo membawa spanduk dan berjalan kaki dari Abepura menuju Waena. Benny mengaku, sudah menunjukkan identitas wartawan, namun oknum polisi berjumlah sekitar 10 orang itu tetap mengatakan dia bukan jurnalis. Saat menuju bengkel mengecek motornya yang sedang diperbaiki, oknum polisi itu membuntuti Benny dan menanyakan kepada warga sekitar bengkel tentang keberadaan Benny.
CLOSE