Taufik Kiemas.

Kejaksaan Agung membantah ada kasus korupsi yang melibatkan suami Megawari itu.

Taufik Kiemas mengaku bingung dengan berita The Age dan Sydeny Morning Herald yang menyebut-nyebut dirinya terlibat korupsi.

“Saya tidak tahu persis apa sebenarnya yang dituduhkan. Jadi bagamana saya harus menjawab,” kata Taufik kepada wartawan, di rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, hari ini.
 
Suami Megawati itu mengatakan, dirinya tak mau menanggapi berita yang isinya hanya spekulasi dan mengimbau media meminta keterangan lebih lengkap kepada Sekjen PDIP, Tjahjo Kumolo dan Ketua PDIP Trimedya Panjaitan.
 
Hari ini, The Age dan Sydney Morning Herald  menuliskan berita yang menghebohkan Indonesia. Berita utama The Age,  antara lain menyebutkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memerintahkan Hendarman Supandji ketika masih menjabat jaksa agung muda pidana khusus untuk menghentikan kasus dugaan korupsi yang menyeret Taufik.
 
Mengutip bocoran kabel Kedutaan Amerika Serikat yang diungkapkan Wikileask, The Age menyebut, Taufik diyakini mendapat keuntungan dari proyek Jakarta Outer Ring Road senilai US$ 2,3 miliar, dan mendapat keuntungan yang lebih besar dari proyek pengadaan rel kereta api ganda Merak-Banyuwangi senilai US$ 2,4 miliar.
 
Untuk proyek Jalan Raya Trans-Kalimantan, Taufik disebut-sebut menerima keuntungan US$ 2,3 miliar. Ada pun untuk proyek  trans-Papua, Taufik menerima US$ 1,7 miliar.

Taufik bisa lolos dari jeratan pidana setelah penasihat senior Presiden SBY, TB Silalahi menyarankan Hendarman Supandji menghentikan penyelidikan. Padahal, Hendarman disebut sudah memiliki cukup bukti untuk menahan Taufik.
 
Di tempat terpisah, Jaksa Agung Muda Pengawasan, Marwan Effendy, mengaku tidak pernah menemukan kasus yang disebut-sebut pernah menyert Taufik. "Saya masuk [Kejaksaan Agung] 2008. Itu kan 2004. Jadi tidak ada," kata Marwan.
 
Gosip politik   
Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, menyebut bocoran Wikileaks yang kemudian dilansir dua koran di Australia sebagai gosip politik yang terjadi pada 2004-2006.
 
Namun yang menarik, kata Ulil,  gosip-gosip seperti itu dikirim oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ke Washington. “Aneh saja, negara sebesar Amerika terlalu ceroboh dalam mengutip informasi,” kata Ulin.
 
Menurutnya, karena kualitas datanya sangat rendah, maka bocoran Wikileaks adalah tamparan bagi Keementerian Luar Negeri Amerika.
 

Penulis:

Sumber:-