Ilustrasi mahasiswa berdemo mengusut berbagai kasus dugaan korupsi
Menyusun harga perkiraan proyek tanpa melibatkan anggota panitia lain.

Pembantu  Rektor (Purek) III Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Fahrudin Arba terancam pidana penjara selama 20 tahun karena didakwa melakukan tindak pidana korupsi terkait proyek pengadaan barang dan jasa tertentu pada 5 Januari 2010 sampai 15 Desember 2010.

"Fahrudin sebagai Pejabat  Pembuat Komitmen dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa tertentu tahun  anggaran 2010 di Universitas Negeri Jakarta, bersama-sama dengan Tri  Mulyono selaku Ketua Panitia pengadaan barang dan jasa tahun yang sama  merugikan keuangan negara sebesar Rp 5,17 miliar," kata jaksa Rahmad  Purwanto saat membacakan dakwaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor,  Jakarta, Selasa (15/1).

Dalam pertimbangannya, Rahmad mengatakan, Fahrudin sebagai PPK tidak melaksanakan tugas sesuai aturan.

Bahkan, bersama-sama dengan Tri Mulyono membiarkan PT Marel Mandiri sebagai pelaksana proyek pengadaan alat laboratorium di UNJ.

Padahal, dirinya mengetahui pemenang lelang dikendalikan oleh satu perusahaan dan dipinjam nama perusahaannya oleh PT Anugrah Nusantara yang tergabung dalam Permai Grup, sehingga negara mengalami kerugian Rp 5,175 miliar.

Jaksa Rahmad bahkan mengatakan telah ada pembicaraan sebelumnya antara staf Permai Grup Meilia dengan Tri Mulyono untuk membicarakan apa saja barang yang dibutuhkan.

Kemudian, Mindo Rosalina Manullang (Rosa) dari Anugrah Nusantara meminta para vendor mengirim brosur alat lab ke pihak  UNJ tanpa harga diskon, sementara sebelumnya perempuan itu sudah menetapkan harga tiap barang harus didiskon 40 persen dan 3 persen.

Atas brosur tersebut, Tri kemudian menyusun harga perkiraan sendiri tanpa melibatkan anggota panitia lain. Tri memutuskan pengadaan 90 jenis barang dan 545 unit dengan total harga Rp 16,99 miliar, padahal harga barang seharusnya sudah didiskon.

Atas pembiaran tersebut, Fahrudin dan Tri Mulyono menerima uang secara bertahap sejak Februari sampai Desember  2010 dengan total jumlah uang Rp 873 juta.

"Pada sekitar Juli 2010, Meilia juga memberikan komputer jinjing merek Sony Vaio, kepada Rektor UNJ, Bejo Suyanto," kata Rahmad.

Atas perbuatannya, Fahrudin dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 ayat  (1) huruf b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat 1  KUHPidana. Dan dakwaan kedua, dijerat Pasal 3 ayat (1) jo Pasal 18 ayat  (1) huruf b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat 1  KUHPidana. Dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Rahmad memaparkan semua berawal pada tahun 2010 ketika UNJ mengadakan pelaksanaan pengadaan peralatan laboratorium dan peralatan penunjang laboratorium yang bersumber dari anggaran pembangunan dengan pagu anggaran Dinas Pendidikan Tinggi sebesar Rp 17 miliar.

Kemudian, lanjut Fahrudin, pada 5 Januari 2010, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan  Rektor UNJ Bejo Suyanto menunjuk panitia pengadaan barang dan jasa untuk beberapa kegiatan.

Kegiatan dimaksud antara lain pembangunan gedung dan fasilitas pendidikan, pengadaan mebel penunjang, pengadaan alat lab pendidikan, pengadaan peralatan penunjang operasional perkantoran, rehabilitasi Gedung Daksinapati tahap III dan Gedung Pasca Sarjana, pengerjaan Civil World New Building, pengadaan pengembangan staf  akademik dan studi lanjut S3 di luar negeri, dan pengadaan konsultan implementasi pengembangan kurikulum.

Untuk proyek pengadaan peralatan laboratorium lelang dibuka pada 27 Juli 2010. Perusahaan  yang mendaftar didominasi kelompok konsorsium Grup  Permai yakni PT Dulango Raya, PT Eksartek, PT Marel Mandiri, PT Nuri  Utama Sanjaya, PT Daya Meri Persada, dan PT Darmo Sepion.

Penulis: /WBP