Ilustrasi: Hakim sedang bersidang.
Keterlambatan memperoleh putusan pengadilan merupakan suatu ketidakadilan.

Purweke
rto - Komisioner Komisi Yudisial (KY) bidang Hubungan Antar Lembaga Ibrahim mengatakan, wibawa hakim tercermin dalam kualitas putusan yang dijatuhkan.

Menurutnya, putusan yang baik adalah putusan yang memuat korelasi antara kedudukan hukum dan amar putusan.

"Wibawa hakim tercermin pada putusannya," kata Ibrahim dalam diskusi publik bertemakan "Mendorong Keterbukaan Pengambilan Putusan di Mahkamah Agung (MA) di Purwokerto, Rabu (23/1) malam.

Meski demikian, ujar dia, ada hal lain yang harus diperhatikan dalam putusan majelis yakni, kecepatan. Sebab, keterlambatan memperoleh putusan pengadilan merupakan suatu ketidakadilan.

Hakim Agung Supandi mengakui, MA harus lebih terbuka. Sejauh ini, menurutnya, lembaga pengadilan tertinggi itu terus berupaya melakukan pembenahan-pembenahan internal. Utamanya dalam membangun keterbukaan yang dapat meringankan beban para pencari keadilan dalam mengakses informasi.

Akan tetapi, terdapat beberapa kendala untuk membangun keterbukaan di MA. Salah satunya diperlukan anggaran yang tidak sedikit mengingat sistem keterbukaan memerlukan sistem teknololgi informasi (IT).

"Tetapi negara perlu mengeluarkan biaya besar untuk mewujudkan percepatan akses informasi putusan," kata Supandi yang merupakan hakim agung dari kamar tata usaha negara (TUN).

Penulis: