Ilustrasi polwan
“Polwan tidak boleh hanya jadi etalase".

Jakarta
- Persentase perempuan di kepolisian Indonesia termasuk salah satu yang terendah di dunia.

“Dari dahulu hanya kisaran 3 persen. Persentase 3,6 persen itu terendah di dunia. This is not for the sake of the women but the Polri itself," ujar Irawati Harsono dalam diskusi Women Leadership in Law Enforcement and Criminal Justice yang diadakan di Atamerica, Selasa (5/2).

Hal ini tidak berbeda jauh sejak Jeanne Mandagi menjadi perempuan brigadir jenderal pertama di Indonesia pada Oktober 1990. Dahulu menurutnya, adanya perempuan dalam lingkungan polisi ini hanya sekitar satu persen.

“Dahulu kami mendesak pada Kapolri dan senior Polri untuk membuka kesempatan seluasnya untuk perempuan mengikuti pendidikan baik karier maupun spesialisasi. Mendesak untuk perempuan-perempuan yang memenuhi syarat, untuk jadi Kapolres, Kapolda, Kapolri. Semua terwujud. Tapi masih sedikit,” kata Jeanne.

“Generasi muda harus berjuang. Bekerja keras dan profesional untuk dapat posisi. Posisi tersebut bukan diberikan sebagai hadiah, namun hasil perjuangan,” tambah Jeanne.

Menurut Irawati, perempuan-perempuan dalam bidang law enforcement jangan merasa “keenakan” di dalam zona nyaman. Misalnya, karena sudah mendapatkan suatu jabatan, maka merasa tenang-tenang saja dan tidak ingin berusaha lebih.

“Polwan tidak boleh hanya jadi etalase,” tegasnya.

Kristin Bauer, wakil duta besar Amerika Serikat di Indonesia juga menyatakan bahwa ia menyayangkan bagaimana perempuan di Indonesia kurang digunakan dan diperhatikan karena peraturan dan paradigma yang terkadang sudah ketinggalan zaman.

“Perempuan memiliki karakteristik unik dan berharga. Perempuan harus lebih percaya diri,” ujar Kristen saat memberikan pidato pembukaan.

Kedutaan besar Amerika, rencananya akan memilih empat kandidat untuk belajar mengeai kepemimpinan perempuan yang berfokus pada kejahatan dan eksploitasi ke Amerika.


Penulis: /FMB