Ilustrasi Pendaftaran Partai Pada Pemilu 2014.

Parpol tidak lagi menjadi wadah aspirasi sejati bagi masyarakat, karena hanya hadir pada saat pemilu.

Jakarta - Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, kepercayaan publik terhadap partai politik (parpol) dinilai semakin menurun. Pasalnya, parpol tidak lagi menjadi wadah aspirasi sejati bagi masyarakat, karena hanya hadir pada saat pemilu. Namun, saat pemilu berakhir, parpol kembali menghilang dan melupakan janjinya pada masyarakat.

Banyaknya parpol yang bertarung di dalam pemilu juga semakin membuat masyarakat bingung, hingga akhirnya berlaku apatis. Apatasi pun kian meningkat lantaran banyaknya kader 'kutu loncat', yang kerap berpindah partai.   

Hal tersebut dikatakan oleh mantan politisi Partai NasDem Endang Tritarna dalam diskusi "Ketidakpercayaan Publik terhadap Parpol, di Center for Dialogue and Cooperation among Civilitation (CDCC), Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/2).

Menurut Endang, kondisi tersebut diperkirakan membuat kalangan golongan putih (golput) dalam pemilu bertambah banyak. Sebelumnya, pada Pemilu 2004, presentasi golput mencapai 23,34 persen dari total pemilih pendaftar. Angka itu lebih besar dari pencapaian suara parpol pemenang Pemilu 2004, yaitu Golkar (16,54 persen, PDI Perjuangan (14,21 persen), dan PKB (8,10 persen).

Sementara pada Pemilu 2009 golput juga kembali menjadi 'pemenang' dengan presentasi 39,1 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada partai pemenang pemilu, yakni Demokrat (20,85 persen), Golkar (14,45 persen), dan PDI Perjuangan (14,03 persen).  

Pada kesempatan serupa, politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo menambahkan bahwa maraknya kasus korupsi turut pula menambah ketidakpercayaan masyarakat. "Partai yang tadinya menjual slogan bersih dan antikorupsi pada akhirnya menunjukkan celanya," ujar Bambang.

Sementara itu, pengamat politik Alfan Alfian mengatakan bahwa masyarakat sudah muak dengan banyaknya drama di dalam parpol. "Masyarakat banyak yang kecewa terhadap parpol karena banyak drama di dalamnya, sementara tidak ada kejelasan penyelesaian masalah.  Drama partai kerap menenggelamkan hal-hal yang substansial. Maka dari itu, rakyat seperti tidak dapat merasakan manfaat adanya parpol. Saya rasa prospek pemilih dalam pemilu 2014 itu suram," ujarnya.

Meski begitu, Alfian menilai parpol masih menjadi harapan publik karena partisipasi masyarakat dalam pemilu masih di atas 50 persen. Persentase tersebut masih lebih tinggi dari Amerika Serikat (AS) yang mencapai 40 persen.

"Kalau di AS, angka 40 persen untuk pemilih sudah termasuk tinggi," tambah Alfian. 

Penulis: Yohannie Linggasari