Petugas kepolsian melakukan penangkapan warga yang berunjuk rasa terkait penangkapan terduga teroris di Poso, Sulawesi Tengah. FOTO: AFP PHOTO / OLAGONDRONK

Jakarta — Asal usul tayangan di dalam video berdurasi lebih dari 5 menit yang dibawa Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin kepada Kapolri Jenderal Timur Pradopo yang berisi adegan penyiksaan oleh anggota Polri terhadap terduga teroris terjadi di Poso atau Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) mulai jelas.

Video itu diduga adalah kejadian pada 2007 lalu dalam operasi kontra teror di kota yang terletak di pesisir pantai tersebut.

"Saya sendiri belum lihat. Tapi staf saya bilang itu gambar (dalam video) adalah kasus tahun 2007. Tapi Polda Sulteng sedang membuat tim untuk menelusuri dan memastikan gambar-gambar di video itu," kata Kapolda Sulteng Brigjen Dewa Parsana saat dihubungi Beritasatu.com Senin (4/3) pagi.

Sedangkan untuk dugaan kekerasan yang melibatkan 18 anggotanya yang hendak diajukan ke depan sidang disiplin buntut peristiwa penyiksaan dan penganiyayaan yang terjadi pada Desember 2012 saat 14 orang warga asal Desa Kalora, Poso ditangkap aparat Brimob dan Polres Poso, Parsana memastikan jika berkasnya masih berjalan.

"Khusus untuk kasus yang di Poso (dua) bulan kemarin sedang dilaksanakan penyelidikan  pendalaman. Kalau sudah selesai berkasnya pasti nanti saya infokan," katanya.

Ke 14 orang itu awalnya diperiksa setelah diduga terlibat penembakan empat anggota Brimob di Tamanjeka, Gunung Biru, Poso. Belakangan ke-14 orang itu dibebaskan dengan luka lebam dan babak belur.

Seperti diberitakan, sebuah video terkait kekerasan yang dilakukan oleh anggota polisi dilaporkan pada Kapolri. Kepastian gambar itu diambil dimana dan kapan akan ada penelitian lebih lanjut oleh Kabareskrim Komjen Sutarman.

Dalam video itu, yang kini telah di upload di Youtube, terlihat ada lebih dari 4 orang terduga teror. Juga ada satu regu Brimob yang berpakaian seragam. Selain itu, terdapat bangunan namun belum bisa dipastikan apakah itu pos atau kantor polisi.

Dalam video terebut terjadi interogasi oleh polisi kepada para terduga teror yang sengaja ditelanjangi. Mereka direbahkan ditanah dengan tangan terikat ke belakang. Juga terlibat ada beberapa terduga teror yang tampak berdarah karena luka tembak.

Tak terlibat upaya untuk mengobati pendarahan akibat luka tembak itu sehingga darah terus mengucur membahayakan nyawa para terduga pelaku teror itu.

Ketua MUI Amidhan mengecam tindakan aparat yang terekam dalam video itu. Menurutnya tindakan yang luar biasa itu bisa dikategorikan pelanggaran HAM berat.

Penulis: Arnashudin