Ilustrasi logo MRCCC Siloam Hospital Semanggi.
Rumah Sakit (RS) MRCCC Siloam Semanggi melakukan operasi varises dengan metode laser yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia.

"Metode laser ini merupakan metode terbaru yang menjadi alternatif pengobatan konservatif untuk varises dengan operasi stripping," ujar Dr. Krzysztof Wasilewski Phd, General and Vascular Surgeon, Rashid Hospital Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang menjadi konsultan MRCCC untuk prosedur ini.

Dengan metode lama, varises diobati dengan cara operasi di mana pembuluh darah ditarik.

Sementara, dengan metode baru yang dikenal dengan nama Elves Radial ini, varises diobati dengan cara memasukkan alat berukuran kecil ke dalam pembuluh darah vena, dimana alat tersebut mengeluarkan sinar laser yang akan memperkecil pembuluh darah.

Metode yang dikenal dengan nama Radio Frekuensi Ablasi (RFA) ini, hanya mengakibatkan rasa sakit yang minimal bagi pasien, serta hampir tidak meninggalkan bekas luka, karena tidak dilakukan pembedahan dan penjahitan kulit.

Krzysztof mengatakan, teknik laser ini dilakukan bukan karena alasan estetik, melainkan untuk alasan medis, di mana kondisi varises sudah sangat parah atau disebut Chronic Venous Disease (CVD).

Menurutnya, ada enam level CVD, dimulai dari yang paling ringan dimana varises hanya menyerupai gigitan laba-laba. Sementara tahap yang paling parah adalah ketika pasien mengalami luka borok menganga yang tidak akan sembuh tanpa prosedur khusus.

Dengan operasi biasa, menurut Krzysztof, kemungkinan untuk varises kembali lagi cukup tinggi, bahkan bisa mencapai 50 persen. Setelah prosedur pun pasien harus menjalani rawat inap dan menghabiskan banyak biaya. Sementara dengan metode laser, kemungkinan varises untuk muncul kembali jauh lebih rendah, yaitu di bawah 20 persen.

"Memang tidak ada istilah 100 persen sukses, tetapi kemungkinan kambuhnya kecil. Dan jika kambuh, prosedur ini aman untuk diulang berapa kali pun," ujarnya.

Dengan teknik laser ini pula, pasien hanya diberi bius lokal dengan rasa sakit yang minimal, sehingga tidak perlu menjalani rawat inap. Pasien pun bisa segera menjalani aktivitasnya, asal memakai stocking pelindung untuk beberapa saat.

Untuk pasien yang varisesnya sudah sangat parah sehingga menimbulkan luka menganga, metode laser tetap bisa dilakukan. Terkadang setelah diberi laser, luka tersebut sembuh sendiri. Namun jika lukanya terlalu lebar dan dalam, biasanya juga akan dilakukan pencangkokan kulit atau skin graft.

Sementara itu secara kosmetik, terapi laser ini juga disebut lebih memuaskan, karena tidak menimbulkan bekas luka seperti operasi stripping.

Dr Carmonthy H SpJP, spesialis penyakit jantung MRCCC, mengatakan bahwa hanya pasien yang memenuhi syarat yang bisa menjalani prosedur ini.

Menurutnya, sebelum menjalani Endevenous Laser Therapy, pasien harus menjalani pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Duples dan pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI), untuk memastikan pasien tidak menderita Deep Vein Thrombosis (DVT).

"Kalau pasien menderita DVT, pembuluh darah vena malah makin melebar," ujar Carmonthy. Menurutnya pula, DVT bisa menjadi penyakit serius yang membahayakan kesehatan.

"Gejalanya bisa berupa bengkak, nyeri, dan perubahan warna kulit atau hiperpigmentasi. Kalau sudah seperti itu, berarti tidak ada aliran darah. Kalau trombosisnya lepas, bisa menuju ke paru-paru, dan pasien bisa mengalami sesak berat," tambahnya.

Diperkirakan metode terapi laser ini akan memakan biaya US$1,500 sampai US$3,000.

 


Penulis: