Zat baru narkoba, cathinone berasal dari tumbuhan catha edulis (Khat), yang banyak tumbuh di Afrika dan Arab.

Jakarta - Narkoba jenis baru, cathinone yang ditemukan dari hasil tes urine tujuh orang yang digerebek oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) di kediaman Raffi Ahmad, Minggu (27/1), kini tengah hangat diperbincangkan.

Pasalnya, banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang zat baru tersebut.

Dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, Selasa (29/1) mengatakan, cathinone dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti euforia, hilangnya nafsu makan, dan halusinasi seperti narkoba. Tak heran bila zat ini dikategorikan sebagai zat psikotropika. 

Cathinone yang merupakan zat stimulan seperti amphetamine dan metaphetamine, juga memberi efek senang, tidak capek dan antidepresan bagi pemakainya.

Selain itu, narkoba jenis baru ini  juga bisa menimbulkan efek pusing, tubuh seolah melayang, serta efek candu. Dalam beberapa kasus, cathinone bahkan bisa membuat orang menjadi lebih agresif.

Lantas, dari mana asalnya zat baru ini? Mengutip dari Wikipedia dan ekhat.org, cathinone berasal dari tumbuhan catha edulis yang diekstrakkan. Tumbuhan yang populer disebut Khat ini, tumbuh subur di negara Azerbeijan, Afrika dan sebagian wilayah Arab.

Meski dilarang di sejumlah negara seperti Amerika dan Inggris, namun cathinone dinyatakan legal di Israel, bahkan dibuat sebagai bahan untuk jus.  Lantaran bisa menekan nafsu makan, jus Khat juga digemari kaum hawa di Israel untuk program diet.

Kendati demikian, konsumsi jus Khat secara besar-besaran pernah menimbulkan masalah di negara itu. Pada Agustus 2012 misalnya, kepolisian Israel menangkap enam penjual jus Khat lantaran menggunakan cathinone dengan kadar cukup tinggi.

Langkah ini dilakukan, karena kebijakan pemerintah Israel mengatur peredaran dan kadar cathinone hanya dalam kadar tertentu.

Tak hanya dalam bentuk jus, chatinone dalam bentuk pil yang disebut Hagigat juga sempat beredar di Israel, 2003. Namun belakangan, muncul banyak kasus warga yang dilarikan ke rumah sakit, karena kandungan yang berlebihan pada pil tersebut. Akhirnya, peredaran Hagigat dilarang di Israel.

Penulis: