Ilustrasi harimau Sumatera

Jambi - Konsultan Kebun Binatang Indonesia Wisnu Whardana menduga prilaku harimau yang berani berkonlfik dengan manusia di Jambi diduga tidak normal.

Wisnu yang juga dokter hewan dari IPB di Jambi, Kamis (14/3) menilai bahwa ketidaknormalan hewan dilindungi ini terlihat dari prilakunya yang tidak dari biasanya alias abnormal.

Ia menjelaskan bahwa biasanya hewan hidup soliter dan cenderung menghindari manusia namun berbeda dengan harimau ini, dia sepertinya sudah terbiasa mendatangi manusia dengan cara masuk ke perkampungan warga.

Prilaku lainya yang dirasa ganjil adalah saat memangsa korban. Harimau biasanya selalu memangsa habis korbannya dan menunggu hingga dia selesai makan, namun harimau yang berkeliaran kali ini memakan mangsanya hanya separuh dan dan bahkan hanya melukai tanpa memakan korbanya.

"Biasanya harimau makan sampai habis, dan ditunggui. Kalau yang ini tidak makan hanya separuh paha saja, makanya kita duga ada kelainan" kata Wisnu.

Perubahan perilaku harimau tersebut, kata Wisnu, dikarenakan adanya penyakit kelainan saraf, namun dirinya belum memastikan penyakit yang diderita harimau itu.

Menurut Wisnu, biasanya penyakit pada binatang bisa disebabkan atau ditulari hewan lainnya.

Ini karena semakin tipisnya hutan dimana harimau dengan mudah dapat berinteraksi dengan hewan lain atau hewan rumahan seperti kucing dan anjing.

"Biasanya yang menularkanya adalah hewan rumahan, seperti anjing dan kucing," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita harimau tersebut, harimaunya harus ditangkap, dan dilakukan pemeriksaan terhadap tinja, cairan tubuh, darah untuk dicek di laboratorium. Dari sana baru dapat diketahui penyakit yang diderita oleh hewan itu.

Dijelaskannya perubahan prilaku harimau atau binatang secar umum juga terjadi di daerah-daerah lain di dunia, seperti di Siberia, Rusia dan lainnya.

Petugas lapangan BKSDA, Bastoni, mengatakan, baru kali ini ada koordinasi bersama untuk menangkap harimau karena sulit ditangan, yang melibatkan pemerintah, NGO, kebun binatang Indonesia, perusahaan dan konsultan.

Selain itu, BKSDA juga telah menyiapkan dua penembak jitu untuk melumpuhkan harimau dalam perburuan itu.

Sebelum melangkah lebih jauh mereka melakukan rapat koordinasi penanganan harimau yang berkonflik dengan manusia di Jambi.

Adapun poin rapat yang dibahas oleh tim tersebut meliputi perubahan prilaku harimau, penyebab munculnya konflik harimau dan manusia, cara penanangan,penerangan kepada masyarakat atau info pencegahan ke masyarakat, pendanaan dan fasilitas harimau setelah ditangkap.

"Ini yang kami bahas sebagai langkah ke depan, dan ini sebagai bukti harimau bukan tanggungjawab BKSDA saja tapi tanggungjawab semua," katanya

Penulis:

Sumber:ANT