Buruh pabrik berjalan menembus genangan air di Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Bandung - Evakuasi masih terus dilakukan pasca terendamnya ribuan rumah di tiga kecamatan wilayah Kabupaten Bandung dengan ketinggian banjir hingga 2,5 meter.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung, pengungsi di Kecamatan Dayeuhkolot mencapai 800 jiwa, di Kecamatan Bojongsoang mencapai 500 jiwa, dan di Kecamatan Baleendah mencapai 2000 jiwa.

“Kemungkinan masih bisa bertambah karena evakuasi warga dari rumahnya masih berlangsung. Kita juga sedang menunggu tambahan peralatan seperti perahu untuk memindahkan korban banjir,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung, Marlan.

Menurutnya, banjir yang terjadi mulai Rabu (27/3) dini hari merupakan akibat luapan air dari Sungai Citarum yang menggenangi sedikitnya 15 rumah di bagian hulu sebelum sampai ke wilayah cekungan di daerah Bandung selatan.

“Sekarang menyurut dan terkonsentrasi di Kecamatan Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah. Masih ada sekitar 5.000 rumah yang terendam banjir,” kata Marlan.

Banjir itu dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah hulu dan anak-anak Sungai Citarum. Hujan itu terjadi di wilayah Kota Bandung dan sekitarnya sejak Selasa (26/3) pukul 23.00 WIB hingga Rabu (27/3) pukul 06.00 pagi.

Selain merendam rumah, banjir ini juga melumpuhkan akses jalan dari Kota Bandung menuju ke daerah Bandung selatan.

Wisnu (25), salah seorang warga Bojongsoang, menghabiskan waktu tiga jam dari rumahnya menuju ke kota. Normalnya, perjalanan dari rumahnya ke kota yang berjarak sekitar 15 kilometer hanya membutuhkan waktu 45-60 menit saja

“Akses jalan tertutup. Kendaraan banyak yang antre dan tidak bisa maju,” kata dia.

Berdasarkan pantuan di lapangan, genangan air mencapai ketinggian 30-60 sentimeter di Jalan Raya Bojongsoang, Baleendah, dan Dayeuhkolot. Titik-titik genangan itu, antara lain, Jalan Dayeuhkolot atau tepatnya depan Polsek Dayeuhkolot, lalu di depan SPBU Banjaran.

Akibat genangan itu, sebagian warga yang akan beraktivitas atau pulang dari pabrik memilih menyewa perahu atau delman. Sebagian lagi merelakan tubuhnya kebasahan saat melintasi jalanan yang penuh air.

Para pengguna motor juga menutupi lubang knalpot dan mendorong kendaraannya menembus banjir.
Kejadian banjir ini memang kerap terjadi saat hujan deras dengan durasi lebih dari lima jam mengguyur Kota Bandung dan sekitarnya. Sebagian besar rumah yang kebanjiran ini berada di daerah yang lebih rendah daripada Sungai Citarum.

“Makanya ada yang terendam sampai 2,5 meter di wilayah Bojong Asih, Cieunteung, dan Leuwi Bandung,” tutur Marlan.

Sebagai antisipasi adanya korban jiwa, Marlan sudah berkoordinasi dengan para petugas di wilayah hulu Sungai Citarum. Setiap kali ada hujan deras dengan frekuensi yang cukup lama, para petugas itu akan berkomunikasi lewat radio panggil.

“Biasanya kiriman air dari hulu sampai ke daerah cekungan yang padat penduduk sekitar tiga jam. Sebelum itu terjadi, kita akan meminta para ketua RW untuk meminta warganya mengungsi,” imbuh dia.

Marlan menegaskan, sistem komunikasi ini akan terus dilakukan mengingat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan hujan dengan frekuensi tinggi akan terus terjadi hingga bulan April mendatang.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Edvin Aldrian, mengungkapkan empat tahun belakangan memang terjadi perubahan iklim yang merubah kondisi cuaca normal. Jika biasanya hujan mulai terjadi pada bulan Oktober hingga Februari, sekarang sudah berubah.

“Bisa terjadi sepanjang musim,” ujar Edvin.

Makanya, sambung dia, Kementerian Pekerjaan Umum yang menangani pembangunan infrastruktur seperti jalanan, bendungan, rel kereta api, hingga pelabuhan harus melakukan penghitungan ulang kekuatan bangunannya.

“Perhitungan curah hujan yang dahulu sudah tidak berlaku lagi. Harus melihat rata-rata probabilitas hujan maksimum yang terjadi belakangan,” terang Edvin.

Indonesia yang berada di garis khatulistiwa tetap terkena dampak perubahan iklim global. Apabila di wilayah utara khatulistiwa terjadi badai, maka wilayah Indonesia akan terkena bagian ekor badai tersebut.

Dampaknya adalah perubahan cuaca ekstrem yang bisa memicu hujan di atas rata-rata normal pada suatu wilayah.

“Makin tinggi intensitas siklon atau badai, makin deras juga hujan yang bisa terjadi (di Indonesia),” terang dia.

Perubahan cuaca ekstrem yang berakibat pada bencana ini diakui oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Badan Geologi, Surono.

Menurut dia, bencana longsor dan banjir kerap terjadi antara bulan Oktober hingga Januari. Namun, empat tahun belakangan, bencana itu terjadi di semua bulan.

“Tentunya dengan jumlah kejadian yang berbeda-beda. Saya rasa ini akibat dari pemanasan global yang berdampak pada perubahan cuaca ekstrem,” tutur dia.

Surono memberi contoh, wilayah Kalimantan dan Sulawesi termasuk daerah yang jarang terjadi bencana. Namun sejak memasuki tahun 2012, tercatat ada tiga kejadian bencana alam yang dipicu oleh hujan deras.

“Di Sulawesi Barat itu sampai ada dua kejadian bencana yang mengakibatkan 29 orang meninggal dunia. Ini bukti kejadian bencana merata di seluruh wilayah dan waktunya juga bisa kapan saja,” kata Surono.

Suara Pembaruan

Penulis: 153/FEB

Sumber:Suara Pembaruan