Sejumlah petugas melakukan olah TKP setelah terjadi penyerbuan di Lapas 2B Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Jakarta - Ketua SETARA Institute, Hendardi, menegaskan, Kontestasi penyelidikan antara TNI, Polri, Komnas HAM menjadi pertanda bahwa kasus penyerbuan LP Cebongan, Sleman sangat serius.

"Karena itu, masing-masing institusi berebut mengendalikan penyelidikan. Kerja penyelidikan yang seharusnya menjadi pembuka tabir peristiwa justru akan berujung pada ketidakjelasan, sehingga kebenaran dan keadilan terabaikan," kata Hendardi, melalui keterangan tertulisnya, Minggu (31/3).

Dijelaskannya, tidak ada satupun kejahatan yang diduga melibatkan personel TNI bisa tuntas diselidiki dan dipertanggungjawabkan ke pengadilan.

Berbagai kasus, seperti kasus penghilangan orang secara paksa, kasus penculikan yang diduga dilakukan Tim Mawar, dan lain-lain merupakan bukti bahwa anggota TNI immun dari jerat hukum.

"Juga menjadi tanda bahwa elit TNI masih meletakkan bahwa TNI lebih supreme dari warga yang lain," ucap Hendardi.

Menurutnya, tanpa terobosan dengan membentuk Tim Investigasi Independen, kejahatan di LP Cebongan berpotensi untuk dibonsai oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menganggap sebagai kejahatan biasa.

Lebih jauh, Presiden SBY juga harus menyelamatkan kepercayaan publik terhadap TNI dan Polri. Caranya, yakni dengan cara membentuk tim independen dan memerintahkan dua institusi ini terbuka terhadap rangkaian peristiwa penyerbuan.

"Publik tidak akan percaya pada kinerja Polri dan TNI karena mereka bagian dari masalah ini," tegas Hendardi.

Suara Pembaruan

Penulis: Y-7

Sumber:Suara Pembaruan