Ilustrasi anggota polisi siaga menangkal kerusuhan.

Bengkulu - Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu, siagakan puluhan personel polisi untuk membantu pengamanan di jalan lintas Sumetara, terutama ruas Lubuklinggau, Sumsel -Muara Bunggo, Jambi pasca terjadinya kasus demo di Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Senin (29/4).

"Kita sudah menyiapkan puluhan anggota polisi jika sewaktu -waktu diminta, siap diberangkatan ke Musi Rawas untuk membantu pengamanan di Kecamatan Rupit," kata Humas Polda Bengkulu, AKBP Hery Wiyanto, di Bengkulu, Selasa (30/4).

Persiapan ini dilakukan karena Polda Bengkulu diperintahkan untuk bersiap-siap. Karena itu, personel yang ada sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi permintaan personel dari Polda Sumsel.

"Yang jelas, jika diminta Polda Bengkulu siap memberangkatkan personel polisi ke wilayah Mura untuk membantu pengamanan lalu lintas di jalan lintas Sumatera pasca demo di Kecamatan rupit yang sempat menewaskan empat warga setempat," ujarnya.

Seperti diketahui aksi demo masyarakat yang menuntut pemekaran Kabupaten Musi Rawas Utara di Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumsel, Senin (29/4) malam terjadi bentrok sehingga menyebabkan empat orang warga tewas.

Empat warga Rupit yang meninggal adalah Suharto (17), Matdo (50), Fadila (45), dan Rinto (17), sedangkan korban luka tembak dan kini dirawat di rumah sakit, antara lain Yopi (19), Andi (19), Diki (28), A Rico (25), Sahari (57), dan Koko (36).

Nur Muhammad, salah seorang warga setempat yang dihubungi SP melalui telepon seluler dari Bengkulu, Selasa (30/4) sore mengatakan, Gubernur Sumsel, Alex Nurdin tiba di lokasi kejadian untuk berdialog dengan masyarakat setempat.

Gubernur Sumsel bersama Kapolda Sumsel tiba di lokasi kejadian menggunakan pesawat helikopoter, tapi warga hanya bersedia berdialog dengan Gubernur Sumsel. Sedangkan Kapolda ditolak mereka untuk ikut hadir dalam dialog tersebut.

Hal ini terjadi karena masyarakat masih marah atas tewasnya empat warga Kecamatan rupit yang diduga ditembak aparat kepolisian tersebut, saat terjadi aksi demo di daerah itu. Sampai Selasa malam arus lalu lintas di jalan lintas Sumatera lumpuh total, karena jalan diblokade warga dengan membakar ban mobil serta di pasang kayu di badan jalan.

Akibatnya, kendaraan dari arah Lubuklinggau menuju Muara Bongo, Jambi terpaksa kembali lagi ke daerah asalnya atau melalui jalan alternatif lain. Demikian pula sebaliknya kendaraan dari Muara Bungo tujuan ke Lubuklingau juga kembali ke daerah asalnya.

Hal yang sama juga terjadi bus angkutan umum dan travel jurusan Bengkulu- Padang terpaksa melewati Kabupaten Mukomuko karena jalan lintas Sumatera masih ditutup sejak terjadi keributan pada Senin malam. "Bus kita yang berangkat dari Bengkulu tujuan Padang terpaksa lewat Kabupaten Mukomuko karena jalan lintas Sumatera tidak bisa dilewati karena masih ditutup masyarakat setempat," kata salah seorang operator sebuah PO di Bengkulu.

Ia mengatakan, selama jalur lintas Sumatera di Muara Rupit belum aman, semua bus tujuan Padang akan tetap lewat Mukomuko karena lebih aman dan jarak tempuh lebih singkat ketimbang lewat Musi Rawas. Hanya saja jalan sedikit lebih sempit dan banyak tingkungan tajam, sehingga bus besar enggan melewati jalan tersebut. "Kita berharap keributan yang terjadi di Rupit segera selesai, sehingga bus kita kembali melewati daerah tersebut," ujarnya.

Suara Pembaruan

Penulis: 143/FMB

Sumber:Suara Pembaruan