Jakarta - Aktivitas Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, Jawa Barat kembali meningkat. Status gunung itu pun dinaikan dari dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) terhitung mulai Minggu (5/5) pukul 12:00 WIB.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan meningkatnya aktivitas gunung tersebut sejak dinihari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Dimana terdapat 60 kali gempa tektonik lokal dan 10 dan gempa vulkanik dangkal.

"Dalam status Siaga Papandayan direkomendasikan agar tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius 2 Km dari puncak Gunung Papandayan," ujar Sutopo, dalam pesan singkatnya, Minggu (5/5).

Oleh karena itu, lanjut dia, beberapa kawah tempat wisata seluas 10 hektar seperti Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk direkomendasikan ditutup sementara.

Lebih lanjut Sutopo mengatakan, BNPB sudah berkoordinasi dengan BPBD Jabar dan BPBD Garut terkait peningkatan status tersebut. Rencana kontinjensi erupsi Gunung Papandayan pun akan segera disesuaikan kembali.

Berdasarkan rencana kontinjensi yang sudah disusun BNPB, jika terjadi erupsi maka akan ada lima kecamatan yang terdampak langsung yaitu Kecamatan Cisurupan (10 desa), Pamulihan (4 desa), Bayongbong (2 desa), Pakenjeng (2 desa), dan Sukaresmi (2 desa).

Total penduduk di lima kecamatan tersebut 11.544 jiwa. Wilayah dengan radius 2 km (KRB III) adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava dan gas beracun.

"Meski demikian, masyarakat dihimbau tetap tenang dan waspada. Belum perlu mengungsi. BNPB, BPBD dan unsur lain akan mengambil upaya yang diperlukan," kata Sutopo.

Diketahui, Gunung Papandayan tercatat pernah beberapa kali meletus seperti tahun 1772, 1923, 1942, 1993, dan 2003. Letusan besar terjadi pada tahun 1772 yang menghancurkan 40 desa dan menewaskan sekitar 2.951 jiwa.

Letusan menyebabkan daerah tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km. Pada 13 Agustus 2011 Gunung Papandayan juga pernah dinaikkan statusnya menjadi siaga. 

Penulis: RIS/AF