Ilustrasi TKW

Kupang - Justice Peace and Integrity Creation (JPIC) salah satu ujung tombak Serikat Sabda Allah (SVD = Societas Verbi Divini) berhasil menyelamatkan lima orang calon tenaga kerja wanita (TKW) Ilegal asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hendak diberangkatkan ke Batam dengan dokumen palsu yang diterlantarkan oleh pihak PT Tugas Mulia.

Lima calon TKW asal pulau Timor, Nusa Tenggara Timur itu kepada SP di Biara Bruder SVD di Kupang, Senin (6/5) siang, mengakui, mereka direkrut Daniel Sabon pemimpin PT Tugas Mulia yang bermarkas di Oesao, Kabupaten Kupang dan untuk dipekerjakan sebagai TKW di Batam dengan upah Rp 900.000/bulan.

Lima TKW illegal itu masing-masing Florentina Nahak (20) asal Kabupaten Kupang, Yustina Feto (18) asal Kabupaten Kupang, Willcah Seo Sae (30) asal Kabupaten Kupang, Yuli Merry (49) asal Belu dan Natalia Manu Bulu (19).

Mereka menuturkan bahwa mereka akan diberangkatkan dengan pesawat Lion Air ke Jakarta untuk seterusnya ke Batam menggunakan pesawat Lion Air tanggal 2 Mei. Mereka berlima sendirian tanpa pendamping karena akan dijemput di Bandara Cengkareng dan akan diatur perjalanan lanjutan ke Batam oleh petugas yang sudah disiapkan perusahan itu di Jakarta.

Ternyata, lanjut mereka, dalam pesawat mereka diwawancarai Pater Paul Rachmat, SVD yang kebetulan bersama mereka dalam pesawat yang sama. Mengetahui, mereka tidak memiliki dokumen lengkap. Pater Paul akhirnya melaporkan mereka ke Kepolisian di Cengkareng.

Yuli Merry mengakui, mereka direkrut Daniel Sabon untuk diberangkatkan ke Batam. Daniel juga yang menyediakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk proses pemberangkatan mereka ke Batam.

Pater Piter Dile Bataona, Koordinator JPIC SVD Timor yang mendampingi mereka menjelaskan, Pater Paul mencurigai kelima calon TKW ilegal itu sehingga dia melaporkan masalah ini kepada pihak kepolisian di Cengkareng. Namun kepolisian tidak bisa menyelesaikan masalah ini karena harus di NTT, maka kelima orang itu diserahkan ke pihak Kementerian Sosial RI dan sempat ditampung di tempat penampungan Bambu Apus, Jakarta hingga dikirim ke Kupang, Sabtu (4/5) malam.

Peter Pieter Dile menjelaskan, JPIC memiliki kepedulian terhadap berbagai masalah seperti masalah lingkungan human trafficiking, HIV/Aids dan beberapa masalah kemanusiaan lainnya. Karena itu, kelima orang ini diberangkatkan dari Jakarta difasilitasi JPIC dan berbagai pihak yang peduli masalah kemanusiaan.

Tiba di Kupang , Sabtu (4/5), lanjut Pater Dile, mereka ditampung sementara di Biara Bruder Gregorius (BBG) Kupang. Selanjutnya mereka akan dikirim kembali ke kampung halaman mereka masing-masing.

Anehnya, kelima orang ini ke Batam mengantongi surat dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kupang dengan nomor yang ditulis tangan: Nomor 562/308/TKT/2013 perihal Rekomendasi Pemberangkatan Tenaga Kerja Antar Daerah (AKAD) tertanggal 1 Mei 2013. Surat tersebut ditandatangani Kedis Nakertrans Kabupaten Kupang, Gustaf H.I. Taopan.

“Siang ini kami sudah janjian mau bertemu Bupati Kupang, Ayub Titu Eki untuk mengembalikan anak-anak ini kepada pemerintah. Kami harus bertemu bupati karena ada surat pengantar dari Kadis Nakertrans Kabupaten Kupang,” katanya.

Menurut Pater Bernad Beru, SVD, mengatakan perdagangan TKW secara terang-terangan yang diketahui oleh pemerintah membuat malu masyarakat di daerah ini.

“Kejadian itu bukan pertama kali dilakukan pihak PJTKI dan pemerintah setempat, sindikat ini sering dilakukan baik dari perusahaan bekerjasama dengan pihak pemerintah bahkan oknum anggota Polisi dan TNI di daerah ini. Hanya karena uang menjual TKW perbuatan ini kita malu,” jelas Pater Bernad.

“Apa lagi uang dari salah satu TKW sejumlah Rp 9 juta dan tiga buah HP juga disita oleh pihak perusahaan. Sehingga pemerintah harus bertanggung jawab atas perbuatan perusahaan itu. Kalau Polisi juga ikut bermain, maka kasus ini kita laporkan kemana? Oleh sebab itu kami hanya berharap Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, ikut mengurus TKW tersebut,” jelas Pater Bernard.

Suara Pembaruan

Penulis: YOS/FMB

Sumber:Suara Pembaruan