Ilustrasi anak korban pelecehan seksual.

Jawa Timur - Tingginya pelecehan dan kekerasan seksual di Jawa Timur (Jatim) sudah mengkhawatirkan. Kondisi itu membuat wilayah ini makin kelam.

Jika saja dapat diendus aparat kepolisian di Provinsi Jatim yang dihuni 29,26 juta penduduk berusia 17 tahun ke atas ini, atau dari total penduduk seluruhnya ada 38,31 juta jiwa itu, maka tidak terlalu mustahil jika hampir setiap menit di provinsi ini terjadi pelecehan seksual.

Dari catatan Suara Pembaruan atas kasus pelecehan seksual yang dilaporkan dalam dua bulan terakhir di Jatim sudah terjadi 28 kasus. Jumlah itu belum termasuk kasus-kasus yang sedang dalam pengusutan karena baru saja dilaporkan saksi korban ke kepolisian. Kasus terbaru itu menyebar di Sumenep, Sampang, Bojonegoro, Kabupaten Malang, Sidoarjo, Pasuruan, Jombang, Ngawi, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Madiun, Tuban, Nganjuk, Bondowoso, Pacitan, Situbondo, dan di Mojokerto.

Namun, karena berbagai kendala, tidak semua kasus pelecehan seksual yang terjadi, dapat diendus aparat penegak hukum.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Hilman Thayib membenarkan, kasus pelecehan atau kekerasan seksual adalah kasus delik aduan, sehingga lebih banyak diungkap manakala ada pihak yang merasa dirugikan mengadukan kasusnya ke kepolisian. Banyak korban tidak melapor karena faktor tertentu. Seperti malu karena kasusnya dianggap sebagai aib diri dan keluarga. Atau korban tidak sampai hamil sehingga berharap akan mendapat jodoh yang diidamkan. Namun tidak sedikit, korbannya dibuat tutup mulut selamanya karena dihabisi dan jasadnya dikubur, dibakar, dan atau dibuang di tempat tersembunyi.

Korban Anak-anak

Kasus kekerasan seksual di Jatim tercatat tak hanya dialami korban dewasa. Tetapi juga banyak yang dialami anak-anak. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kediri. Jumlahnya juga terus meningkat.

Selama tahun 2012, anak-anak yang menjadi korban kasus seksual di Kabupaten Kediri mencapai 51 kasus. Yang mencengangkan, mayoritas pelaku perkosaan terhadap anak-anak dengan korban sebanyak 61 orang itu, justru 34 kasus di antaranya menunjukkan bahwa hubungan antara korban dengan tersangka sangat dekat.

Kapolres Kediri AKBP Dheny Dariadi mengungkapkan, pihaknya mengalami kesulitan jika ada korban kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak, karena untuk mengajak para orang tua melaporkan kasusnya saja, sangat sulit. Juga dalam mengambil keterangan, penyidik dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) juga terkadang harus membutuhkan kesabaran ekstra.

“Umumnya para korban mengalami trauma, dan orang tuanya tidak sampai hati melihat putrinya bertambah tertekan batinnya,” ujar Dheny.

Komnas Perlindungan Anak Indonesia Aris Merdeka Sirait yang bertandang ke Mapolres Kediri belum lama ini juga mengungkapkan, kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak di Indonesia sudah memasuki kondisi yang mengkhawatirkan. Hampir di setiap Polres ada sekitar 50 kasus yang melibatkan anak-anak.

“Bahkan, di Polres Kediri mencapai 51 kasus. Jika dikalkulasi secara nasional, ini sudah sangat mengkhawatirkan,” ujar Aris.

Dari banyaknya kasus yang melibatkan anak-anak, kata dia, hampir 75 persen dilakukan orang terdekat. Baik oleh ayah kandung, ayah tiri, atau keluarga dekat lainnya. Banyaknya kasus yang melibatkan anak-anak, juga disebabkan mulai lunturnya jati diri budaya bangsa.

Di antara sejumlah kasus pelecehan seksual yang terjadi, yang paling menggemparkan adalah kasus perkosaan yang dilakukan ayah terhadap anak tirinya. Untuk memuluskan aksi bejatnya, ayah yang berprofesi sebagai dukun di Bojonegoro itu justru meminta bantuan istrinya secara paksa. Istrinya diminta membujuk putri kandungnya itu untuk memenuhi hasrat nafsu binatang Supardi alias Mbah Ronggo (60).

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan Supardi, berprofesi sebagai dukun alternatif berbagai penyakit di Jl Kapten Ramli, Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, terhadap anak tirinya itu sudah berlangsung selama dua tahun. Kasusnya terbongkar ketika saksi korban menceriterakan nasibnya kepada kakak kandungnya, RS (20) yang tinggal bersama neneknya di luar Kecamatan Ledok Kulon.

Dalam proses persidangan tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro, belum lama ini, menurut korban, ia yang kala itu masih berusia 14 tahun, tidak berani menolak hasrat tidak waras ayah tirinya karena aksi itu justru dibantu ibu kandungnya sendiri, SMI (40). Perkosaan demi perkosaan terus dialami saksi korban hampir setiap minggu hingga selama dua tahun.

SMI mengaku rela menyerahkan putrinya kepada suaminya karena ia takut dicerai. Ia juga khawatir anaknya diguna-guna hingga menjadi gila dan sengsara.

“Ibu saya ikut memegangi saya saat saya ditindih berulang kali oleh ayah tiri saya,” aku Melati, bukan nama sebenarnya, yang kini memilih putus sekolah karena terlalu berat menanggung aib.

Supardi dijerat pelanggaran Pasal 81 Ayat 2 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak oleh mejelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro yang diketuai Bonar Harianja akhir Maret lalu dan diganjar hukuman delapan tahun penjara. Sedangkan SMI diganjar hukuman enam tahun penjara. Keduanya juga dibebani kewajiban membayar denda masing-masing Rp 60 juta subsider enam bulan pidana kurungan.

Suara Pembaruan

Penulis: ARS/FMB

Sumber:Suara Pembaruan