Ilustrasi menghitung uang rupiah

Jakarta - Rekening gendut milik anggota Polri tidak selesai untuk diberitakan.

Kali ini Polda Papua tengah mengusut kepemilikan rekening gendut milik salah satu anggotanya, Aiptu Labora Sitorus, anggota Polres Sorong yang melakukan transaksi mencurigakan yang nilainya mencapai Rp 900 miliar.

"Sedang disidik Mabes Polri dan Polda Papua," kata Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), M Yusuf, di kantor PPATK, Jakarta, Selasa (14/5/).

Menurut M Yusuf, PPATK juga menemukan Aiptu Labora memiliki bisnis lain di luar kepolisian. "Dia punya bisnis karaoke, tapi dilihat dari polanya kita patut curigai," ujarnya.

Polda Papua menyatakan, pihaknya tidak hanya mengusut rekening mencurigakan Aiptu Labora. Tapi juga dugaan keterlibatannya dalam kasus penyelundupan kayu dan BBM.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Papua, Kombes Pol Setyo Budiyanto, menyatakan, kasus penyelundupan kayu dan BBM itu kini sudah masuk tahap penyidikan. "Kasus itu sudah masuk ke penyidikan," ujarnya.

Dari kasus ini, lanjut Setyo, Polda pun mengembangkan ke kasus kepemilikan rekening mencurigakan. "Yang bersangkutan sudah kami panggil dan periksa. Nilai rekeningnya sekitar Rp 900 miliar," kata Setyo.

Namun, untuk kasus rekening gendut, lanjut Setyo, pihaknya masih mengumpulkan bukti tambahan. "Kalau rekening, kami belum penyidikan, masih penyelidikan. Kami belum masuk terlalu jauh, tapi memang yang bersangkutan sudah kami panggil dan periksa," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Jakarta, Selasa, mengaku belum mengetahui anak buahnya memiliki rekening gendut. "Siapa itu? Saya belum tahu. Kami masih mencari tahu dulu," katanya.

Menurut Boy, kasus itu kini diusut oleh Polda Papua. Polri belum menangani kasus Aiptu Labora ini.

"Itu Polda Papua yang mengusut. Polda punya otoritas terhadap anggotanya sendiri. Kami tunggu. Apabila ada hasil dan terbukti, itu full dilakukan oleh Polda," tambah Boy.

Suara Pembaruan

Penulis: L-8/YUD

Sumber:Suara Pembaruan