Perempuan Papua menari Yospan yang merupakan tarian pergaulan pada upacara HUT ke-68 Kemerdekaan RI di Skouw-Wutung, perbatasan RI-PNG, Papua, Sabtu (17/8)

Jakarta - Bangsa ini baru memperingati hari ulang tahun kemerdekaannya, Sabtu (17/8) lalu. Peringatan itu memasuki usia ke-68 sejak memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945 lalu. Sebuah usia yang cukup tua bila dikenakan ke usia manusia. Akan tetapi, sudahkah masyarakatnya merasakan benar-benar merdeka?

Hasil polling lembaga survei Pusat Data Bersatu (PDB) menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan hanya dalam arti bebas dari penjajahan bangsa lain dan adanya pengakuan bangsa lain terhadap kemerdekaan Indonesia.

"Secara de jure, kita memang merdeka. Tetapi secara de facto, kita belum merdeka," kata Direktur PDB Didik Rahbini di Jakarta, Senin (19/8) malam.

De facto dalam bahasa Latin adalah ungkapan yang berarti "pada kenyataannya" atau "pada praktiknya". Istilah ini biasa digunakan sebagai kebalikan dari de jure (yang berarti "menurut hukum") ketika orang mengacu kepada hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan pemerintahan.

Ia menjelaskan, masyarakat memang menyadari dan mengetahui bahwa bangsa ini telah merdeka. Hal itu ditunjukan dari jawaban responden bahwa 71% menyatakan kita telah merdeka.

Namun ketika ditanyakan makna dari kemerdekaan, sebanyak 74% responden mengatakan bangsa ini belum merdeka dari intervensi asing. Jadi merdeka yang dipahami hanya dalam tataran konsep atau pengakuan dari negara lain. Sementara merdeka dalam fakta-fakta konkrit atau defacto belum sesungguhnya terjadi.

Polling PDB dilakukan menjelang kemerdekaan bangsa ini yaitu 14-15 Agustus lalu. Polling dilakukan terhadap 200 warga DKI Jakarta yang dipilih secara acak dengan tingkat kesalahan 6,9%.

Peneliti dari PDB Agus Herta mengemukakan, responden hanya dipilih DKI Jakarta dengan argumentasi DKI Jakarta adalah Indonesia mini. Di Jakarta tertampung semua etnis, suku, ras, dan agama dari berbagi pelosok di Tanah Air.

Menurutnya, untuk ukuran sebuah bangsa, penilaian bahwa bangsa ini belum sesungguh merdeka masih relevan. Alasannya usia bangsa ini baru 68 tahun.
Namun bukan berarti tidak harus terpacu untuk membangun dan membawa bangsa ini ke kemerdekaan dalam arti defacto. Bangsa ini harus bisa benar-benar terlepas dari pengaruh asing sehingga rakyatnya merasakan kemerdekaan itu.

Dia mengakui untuk saat ini, Indonesia memang belum bisa bebas dari ketergantungan terhadap asing. Sebagai contoh adalah dalam investasi. Bangsa ini masih mengharapkan investasi dari negara lain untuk bisa membangun.

Namun dia berharap agar tidak selamanya bisa berjalan seperti itu. Harus ada visi dan misi bersama agar melepas ketergantungan tersebut.

"Perlu 15-20 tahun supaya bisa terbebas dari intervensi asing. Namun syaratnya harus ada visi dan misi bersama menuju ke arah tersebut. Pemerintah harus buat aturan agar bisa lepas dari ketergantungan asing. Sementara masyarakat luas mendukung kebijakan yang ditetapkan," tegasnya.

Hasil polling juga menunjukkan hanya 25,8 persen masyarakat merasakan kemerdekaan dalam arti kebebasan, 14,8 persen merasakan kemerdekaan dalam arti aman, 13,2 persen menyatakan bebas dari campur tangan asing, 9,3 persen bebas dari kemiskinan, dan 8,2 persen bebas dari penjajah.

Makna kebebasan lainnya adalah hanya 8,2 persen merasakan kebebasan berpendapat, 5,5 persen bebas mengisi pembangunan, 2,7 persen merdeka dalam pengertian pemerataan ekonomi, mencerdaskan kehidupan bangsa 2,2 persen, harga murah 1,6 persen, bebas dari korupsi 1,6 dan bebas berpolitik 1,6 persen.

Penulis: R-14

Sumber:Suara Pembaruan