Maket (ilustrasi) Jembatan Selat Sunda

Kelanjutan rencana pembangunan jembatan Selat Sunda masih belum jelas dan terkatung-katung di meja pembahasan Tim-7.

"Proyek ini masih di Tim 7 sampai sekarang, dari enam anggota sudah setuju semua tapi ada satu anggota yang belum ok," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa setelah menyelesaian pertemuan 4th Indonesia-Japan Joint Economic Forum di Tokyo.

Hatta Rajasa sendiri tampak prihatin dengan alotnya pembahasan yang menyebabkan proyek tersebut belum juga terlaksana.

Menurutnya, banyak pertimbangan yang harus diambil sebelum pelaksanaan proyek namun pembahasan yang berlarut-larut akan membuat sistem logistik dan distribusi transportasi di Indonesia tidak mengalami peningkatan.

"Saya bisa membayangkan dalam 10-15 tahun lagi kalau sedikit saja ada gangguan di Pelabuhan Merak, maka antrian bisa sampai Jakarta. Bisa sampai 10 km macetnya," kata Hatta.

Kompromi sekaligus pelibatan swasta dalam proyek itu tidak akan menjadi masalah serius tapi justru mempercepat pelaksanaan proyek jembatan yang akan memakan biaya Rp225 triliun itu.

"Pembangunan proyek ini harus ada kompromi, ini juga akan menimbulkan kebanggaan sekaligus peningkatan efisiensi sistem distribusi dan logistik kita," ujarnya.

Kepala Daerah seluruh Sumatera dan se-Jawa telah menyatakan dukungannya dalam proyek itu, sayangnya pelaksanaan masih terganjal di meja pembahasan tim 7 hingga saat ini.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo sebagai salah satu anggota tim 7 sebelumnya mengirimkan surat kepada Menteri Pekerjaan Umum agar proyek Jembatan Selatan Sunda studi kelayakan dan desain dasarnya dibiayai negara melalui APBN bulan melalui pemrakarsa atau investor swasta.

Agus meminta agar Perpres nomor 86 tahun 2011 tentang Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda diubah.

Sementara itu Konsorsium justru meminta Perpres nomor 86 tersebut tak diubah.

Konsorsium yang memrakarsai pembangunan jembatan Selat Sunda beranggotakan Grup Artha Graha bersama Pemerintah Banten dan Lampung menggunakan nama PT Graha Banten Lampung Sejahtera.

Mayoritas saham konsorsium itu dikuasai oleh Grup Artha Graha.

Penulis: