Rieke Dyah Pitaloka (kanan)
Pengembangan bisnis kelapa sawit yang dilakukan PTPN VIII di Kabupaten Lebak dan Bogor adalah strategi yang salah.

Bakal Calon (Balon) Gubernur Jawa Barat (Jabar) Rieke Diah Pitaloka meminta agar Pemerintah Daerah (Pemda) Jabar mempertimbangkan rencana pemanfaatan lahan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit di wilayah itu.
 
Kritik itu disampaikan Rieke setelah mendengar selain PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, sejumlah perusahaan swasta sudah mengincar lahan diIndramayu, Bogor, dan Garut untuk dijadikan lahan kebun sawit.
 
“Pengembangan sawit di Jabar harus dipertimbangkan kembali. Ini bisa merugikan banyak hal. Pihak pemerintah daerah harus mempertahankan dan  mengembangkan perkebunan lama seperti teh, karet atau tembakau," kata anggota Komisi IX DPR RI itu, di Jakarta, hari ini
 
Rieke menyatakan dirinya menilai sawit bukanlah tanaman yang tepat dikembangkan di Jabar. Sebab kelapa sawit bersifat berat, menyerap air yang terlalu banyak sehingga tanaman di sekitarnya akan sulit tumbuh.
 
Selain itu, sawit juga berbahaya karena mempengaruhi ekosistem serta mematikan anak-anak sungai. Tanah para petani yang berada di sekitar  lahan sawit akan dirugikan. Ini juga berarti pola pertanian tumpang sari pun susah dilaksanakan.
 
“Jabar itu signifikan untuk perkebunan. Banyak perkebunan milik masyarakat. Saya khawatir nanti akan ada rebutan air dengan perkebunan sawit,” sesal Rieke.
 
Perempuan yang digadang-gadang sebagai Cagub Jabar terkuat dari PDIP itu juga mengkritik strategi pengembangan bisnis kelapa sawit yang dilakukan PTPN VIII di Kabupaten Lebak dan Bogor. Misalnya, pengembangan perkebunan Bojong Datar, Cikasungka, Tambaksari, Cisalaak  Baru, dan Kertajaya seluas 18.843,63 hektar.

Menurut dia, pengembangan ini memancing pemda untuk mengalihfungsikan lahan menjadi sawit. “Ini bukan sekedar hitung untung rugi, kalkulasi angka. Ada alam yang dipertaruhkan sebagai dampak dari kerusakan ekologi jangka panjang,” imbuh doa
 
Rieke juga menduga hasil sawit dari Jabar tidak akan diserap dalam negeri melainkan dijual ke luar negeri. Menurut dia, PTPN VIII mestinya  melakukan peremajaan terhadap karet bukan menggantinya dengan sawit.
 
Daripada memikirkan mencari untung dengan menanam sawit, dia menyarankan Pemprov Jabar mendorong daerahnya menjadi pusat komoditas pangan  tropis, buah-buahan dan sayuran.  “Jabar bisa menjadi laboratorium swasembada pangan tropis karena varietas bibitnya sangat luar biasa,” tandas Rieke.

Penulis: