Anak-anak sekolah dasar.
"Untuk meningkatkan indeks kemakmuran bangsa usaha yang perlu dilakukan adalah menyediakan pendidikan berkualitas tinggi"

Mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial di tingkat sekolah dasar tidak dihapus, tetapi akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain, kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim.

"Misalnya, mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) dan ilmu pengetahuan sosial (IPS) diintegrasikan ke dalam Bahasa Indonesia," katanya pada Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) VII/2012 di Yogyakarta, Rabu (31/10).

Dicontohkannya, pembelajaran IPA dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, bisa dilakukan dengan mengajak siswa ke lapangan terdekat dan mengamati fauna di tempat tersebut.

"Selanjutnya siswa kelas satu sekolah dasar (SD) diminta menceritakan secara verbal, dan siswa kelas yang lebih tinggi diminta untuk menuliskan cerita mereka karena dianggap sudah pandai baca tulis," katanya.

Menurut dia, Indonesia berhasil naik tujuh tingkat dan kini menduduki ranking 63 dari 144 negara dinilai dari beberapa aspek yang meliputi bidang ekonomi, pemerintahan, kesehatan, keamanan, kebebasan pribadi, dan kekeluargaan.

Indonesia juga dianggap luar biasa karena bisa menyediakan dana 20 persen dari APBN untuk pendidikan dan menyusun Undang-undang (UU) Guru dan Dosen.

"Oleh karena itu, kita harus tetap optimistis untuk membangun bangsa. Untuk meningkatkan indeks kemakmuran bangsa usaha yang perlu dilakukan adalah menyediakan pendidikan berkualitas tinggi," ujarnya.

Ketua Umum Konaspi VII/2012 yang juga Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rochmat Wahab mengatakan, Konaspi merupakan momentum untuk menjawab segala persoalan pendidikan di negeri ini. Persoalan itu di antaranya tawuran oleh sebagian pelajar atau mahasiswa maupun perilaku destruktif, amoral, dan korup.

"Dengan mengambil tema 'Memantapkan Karakter Bangsa Menuju Generasi 2045', saya yakin Konaspi benar-benar hadir sebagai forum bersama yang solutif menjawab tantangan masa depan bangsa ini," katanya.

Menurut dia usaha mewujudkan generasi 2045 bukan perkara mudah. Generasi 2045 merupakan generasi yang menandai satu abad bangsa ini.

"Sejak 2010 hingga 2035 Indonesia diperkirakan mengalami bonus demografi yakni populasi usia produktif yang paling besar sepanjang sejarah negeri ini," katanya.

Ia mengatakan, Indonesia pada periode itu akan melakukan investasi besar-besaran dalam bidang sumber daya manusia sehingga pada 2045 investasi tersebut diharapkan menuai hasil yang optimal.

"Hasil itu adalah terciptanya generasi berkarakter, produktif, unggul, kompetitif, dan peduli. Oleh karena itu generasi 2045 biasa disebut generasi emas," katanya.

Penulis: /WEB