Ilustrasi Kebakaran/ JG Photo
Kebakaran kali ini tercatat paling besar terjadi di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur selama tahun 2012.

Sebanyak 144 rumah warga di kota Sampit, Ibu Kota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis (29/11) dini hari, ludes dilalap api. Aksi si jago merah membuat kehilangan tempat tinggal sekitar 627 jiwa ini merupakan peringatan keras, terutama bagi warga yang memiliki bahan bangunan tempat tinggal dominan dari bahan kayu.

"Api tidak mengenal musim lagi, di wilayah Kabupaten Kotim sedang musim hujan dan beberapa rumah warga sudah terendam banjir karena meluapnya DAS Mentaya, tapi justru tidak jauh dari sungai ini mengalami kebakaran hebat," kata Bupati Kotim, Sofyan Hadi, sekaligus mengakui sangat prihatin atas nasib yang melanda warganya, Kamis (29/11).

Kebakaran besar ini tepatnya terjadi di Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, yang lokasinya berada di tengah kota Sampit. Kebakaran kali ini tercatat paling besar terjadi di Kabupaten Kotim selama tahun 2012. Pendataan sementara rumah terbakar sebanyak 144 buah yang dihuni 158 Kepala Keuarga (KK) atau 627 jiwa. Memang tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian secara material tidak kurang dari Rp 5 miliar.

Penyebab kebakaran masih belum diketahui secara jelas, dugaan sementara akibat terjadi korsleting arus pendek listrik. "Semua itu kita serahkan kepada pihak kepolisian untuk mengungkap fakta sebenarnya penyebab terjadi kebakaran besar ini. Hanya saja kepada warga yang terkena musibah memilukan ini agar tabah dan sabar,karena tidak seorang pun yang menghendaki kejadian semacam ini," kata Bupati.

Sofyan mengatakan sudah menginstruksikan kepada pihak SKPD untuk segera melakukan rapat koordinasi penanganan bagi para korban. Kepada pihak Dinas Sosial supaya segera memberikan bantuan dan mendirikan tenda penampungan bagi korban yang tidak memiliki tempat mengungsi sementara.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kotim, Sanggul Lumban Gaol, menyatakan pihaknya telah mendirikan tenda darurat untuk menampung para korban serta mendirikan dapur umum. Namun demikian, kepedulian dari warga lain dalam memberi berbagai bantuan juga sudah banyak masuk, baik pakaian bekas serta bahan makanan.

”Kami sudah berusaha maksimal membantu korban terkena musibah kebakaran ini. Pihak Dinsos Kotim segera akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Propinsi Kalteng serta Kementrian Sosial di Jakarta dengan harapan bantuan segera dapat disalurkan kepada para korban,” katanya.

Bungai (51), warga Kota Sampit mengatakan kebakaran melanda tengah kota Sampit ini terjadi sangat besar karena kondisi bangunan memang padat dan saling mendempet. Ketika terjadi kebakaran mobil pemadam sulit masuk karena jalan sempit-sempit. Ditambah lagi kebakaran terjadi dini hari sehingga pertolongan secara manual dari warga sekitar juga kurang.

Penulis: