Ilustrasi Gunung Meletus
Semburan debu itu mencemarkan sumber air bersih untuk dikomsumsi.

Gunung api Rokatenda kembali memuntahkan debu vulkanik yang menyebabkan Pulau Palue Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ditutupi debu sehingga mengancam kesehatan warga  masyarakat setempat.

Semburan debu itu mencemarkan sumber air bersih untuk dikomsumsi. Sementara penduduk Pulau Palue yang berjumlah kurang lebih 10.000 orang terpaksa mengungsi ke Maumere dan wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Nagekeo. 

Sejumlah warga yang masih bertahan di Pulau Palue harus mengkonsumsikan air bersih yang didatangkan dari Maumere.

Informasi diterima Suara Pembaruan dari Mahmud,  seorang guru di Palue yang ikut mengunsi ke wilayah  Ende, mengatakan, sepanjang dua pekan penduduk mendatangkan air minum dari Maumere karena  ketiadaan air bersih di Palue.

"Debu Gunung Rokatenda mengcemari air bersih di seluruh pulau Palue. Kami terpaksa harus  mendatangkan dari Maumere dengan kapal motor," jelasnya di Kupang, Sabtu (22/12) . 

Warga  masyarakat yang selama ini bertahan akhirnya mengungsi ke Kabupaten Ende seperti di Ropa dan di Kabupaten Nagekeo yakni Mbay. Selama ini upaya masyarakat secara  swadaya mengumpulkan uang   sebesar Rp5.000/liter air melalui kapal motor nelayan.

Bupati Sikka, Sosimus Mitang, kepada SP mengatakan status gunung itu masih siaga tiga, namun  masyarakat di pulau itu cukup memprihatinkan sehingga pemerintah daerah menetapkan siaga satu untuk kemanusian.

Masyarakat yang selama ini bertahan di Pulau Palue terpaksa mengungsi karena sumber air minum dan air hujan tercemar oleh debu volkanik gunung Rokatende dan masyarakat mulai terserang panyakit ISPA sehingga pemerintah daerah  menetapkan siaga satu. 

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Tini Tadeus, kepada SP, di Kupang, mengatakan, akhir-akhir ini semburan debu gunung Rokatenda mengalami peningkatan. Biasanya 10 – 25 kali setiap hari dan saat ini meningkat 25 hingga 40 kali. 

Sebelumnya  sebagian penduduk pulau Palue sudah mengunsi di Maumere dan saat ini  kurang lebih 10.000 orang juga harus mengungsi karena kesulitan air minum. Sementara air hujan ikut tercemar. “Kami telah mengirim 11.000 masker untuk masyarakat pulau Palue," jelas Tini Tadeus.


Penulis: