Mengungkapkan pungutan, seorang guru di Trenggalek dihukum oleh sekolah. Pungutan sebesar Rp100 Ribu dari dana Tunjangan Profesi Pendidikan sebesar Rp 1,5 juta.
Mengungkapkan pungutan, seorang guru di Trenggalek dihukum oleh sekolah. Pungutan sebesar Rp100 Ribu dari dana Tunjangan Profesi Pendidikan sebesar Rp 1,5 juta.

Guru Sekolah Dasar swasta di Trenggalek, Ana Diyanti yang mengungkap praktek pungutan liar di lingkup kerja Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek, justru dikenai sanksi. Ana dihukum oleh sekolah tempat dia mengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu Al Azhaar Gandusari Trenggalek.

Ada sejumlah hukuman yang diberikan kepada Ana Diyanti. Ia diberi sanksi oleh sekolah untuk membuat surat pernyataan yang ia tulis tangan di atas kertas bermeterai. Isinya, Ana menyatakan bersalah sehingga harus memohon maaf. Ana juga dikenai sanksi berupa pengurangan jam mengajar dari 26 jam per pekan, jadi delapan jam per pekan mulai Jumat 11 Januari 2013 kemarin.

Ana yang hampir tujuh tahun berturut-turut jadi guru kelas pada kelas satu, dialihkan jadi guru Bahasa Inggris untuk kelas satu dan kelas dua. Dengan dikurangi jam mengajar itu, Ana yang sudah lolos ujian sertifikasi akhirnya tak memenuhi jatah jam mengajar sesuai syarat guru bersertifikat, yaitu 24 jam per pekan.

Selain itu, Ana dituding membuat sekolah tercoreng.  “Ini yang saya enggak faham. Di tengah bangsa Indonesia sedang berjuang keras melawan korupsi, mestinya mengungkap praktek pungli itu dapat dukungan. Eh, saya malah dinilai mencoreng nama sekolah, dan dikenai sanksi,” kata Ana di Trenggalek dalam rilisnya, Minggu (13/01/2013).

November lalu, Ana mengungkap bahwa guru swasta penerima tunjangan profesi pendidikan (TPP) di Trenggalek dikenai pungutan. Mereka dimintai urunan masing-masing sebesar Rp 100 ribu oleh koordinator guru. Padahal, TPP yang mereka terima berkisar "cuma" Rp 1,5 juta.

Menurut Ana, koordinator guru menarik pungutan ini atas nama urunan sebagai ucapan terima kasih kepada pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Trenggalek. Sebelumnya, Ana juga diminta urunan Rp 100 ribu oleh koordinator guru juga atas nama terima kasih untuk pejabat Dinas Pendidikan Trenggalek.  “Guru yang menolak atau bersikap kritis terhadap praktek semacam ini kerap dituding tidak ikhlas dan tidak tahu terima kasih,” kata Ana.

Sehari setelah pungutan liar ini menjadi berita di sejumlah media massa nasional dan lokal, Ana dipanggil Kepala Sekolah Nanik Sutriani. Oleh Kepala Sekolah, Ana dan dimaki-maki dan diintimidasi karena dinilai menjadikan sekolah tercoreng di hadapan pejabat Dinas Pendidikan Trenggalek.  Kepala Sekolah juga memaksa Ana untuk memohon maaf.

Sejak saat itu pula, Ana kerap mendapat intimidasi lewat pesan pendek dari Kepala Sekolah. “Saya berusaha diam dan sabar dengan segala intimdasi itu. Saya yakin, saya tak bersalah. Sebagai guru, saya biasa mengajarkan nilai-nilai kejujuran, dan kebaikan. Saya juga mengajarkan antikorupsi pada siswa, bahwa mengambil uang atau barang bukan haknya adalah tercela dan dosa. Sebab itu, saya menolak menandantangani pernyataan bersalah yang dipaksakan itu,” kata Ana.

Penulis: