Ronald Alexander/Selvanus Geh

Jakarta - Catatan impresif kemenangan beruntun pasangan ganda putra terbaik Indonesia tahun ini sekaligus juara dunia 2013, Moh. Ahsan/Hendra Setiawan terhenti di Yogyakarta.

Sebanyak 22 kali pertandingan, pasangan ini tak terkalahkan sejak gelaran Indonesia Terbuka Premier Super Series Juni 2013. Bahkan ganda nomor satu dunia, Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun dua kali mereka kalahkan, di final Indonesia Terbuka dan Singapura Terbuka Super Series.

Rentetan kemenangan panjang itu justru terhenti oleh pasangan yang belum bergaung luas namanya: Ronald Alexander/Selvanus Geh. Di perempat final Indonesia Terbuka Grand Prix Gold (GPG), GOR Among Raga, Yogyakarta, Jumat (27/9), Ahsan/Hendra kalah 21-9, 19-21, 18-21 dari Ronald/Geh.

Ronald/Geh adalah saudara seperguruan Ahsan/Hendra. Sama-sama dilatih Herry Iman Pierngadi, pelatih kepala ganda putra di pelatnas Cipayung. Ronald dan Geh mulai digembleng di pelatnas Cipayung sejak awal 2012 setelah berhasil lolos seleknas pelatnas Cipayung 2011.

Ronald yang lahir di Bitung, 15 Agustus 1993 bercerita, masa-masa kelas 2 SD adalah awal saat ia mulai menekuni bulu tangkis. Geh, kelahiran Samarinda 27 November 1993, memulainya di kelas 4 SD.

"Waktu itu sering lihat Papa main bulu tangkis, makin lama jadi tertarik. Kemudian ikut, belajar megang raket. Lalu diajari dasar-dasarnya sama Papa," Geh bercerita kepada Beritasatu.com melalui sambungan telepon, Jumat (4/10) malam usai sesi latihan sore.

Pada 2008, saat mereka masih berusia 14-15 tahun, Ronald dan Geh merantau ke Jawa untuk memperdalam ilmu bulu tangkis. Ronald bergabung ke Jaya Raya Jakarta, Geh berlatih di Hi Qua Wima Surabaya. Namun sejak 2011, Ronald pindah ke Surabaya untuk bergabung ke Jaya Raya Suryanaga Surabaya.

Berpisah dengan keluarga di usia muda memang berat, namun keduanya mengaku tak perlu waktu lama untuk beradaptasi. "Ya awalnya sih berat, tapi setelah dua sampai tiga bulan udah mulai terbiasa," kenang Ronald.

Untuk melepas rindu, mereka merutinkan diri untuk pulang kampung setidaknya setahun sekali saat Natal. Ronald pulang ke Manado, Geh balik ke Samarinda.

Sama seperti kebanyakan pebulutangkis, mereka pun mengakui ada perbedaan signifikan sejak menjadi penghuni pelatnas. Mereka harus berlatih lebih keras, lebih disiplin, dan serius.

"Kalau telat datang latihan bisa didenda sama pelatih (Herry Iman Pierngadi) Rp 250.000. Dimasukkan ke uang kas buat kalau ada acara, semisal nikahan," ungkap Geh.

"Lebih keras sih daripada di klub, bisa dua kali lipat," imbuh Ronald.

Sebagai pebulutangkis muda, mereka mengakui masih ada banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Terlihat di final Indonesia Terbuka GPG 2013 saat melawan senior di pelatnas, Angga Pratama/Rian Agung Saputro, stamina menjadi faktor teknis kekalahan Ronald/Geh.

"Di final kemarin kami kurang di stamina. Selain itu juga pukulan masih kurang matang, kurang konsisten dan suka mati sendiri," ujar Geh.

Di lapangan, Geh lebih suka bermain di depan. Alasannya sederhana, Ronald punya smes tajam dan lebih bertenaga. Tugas Geh adalah mengontrol permainan dan memberi umpan-umpan enak untuk Ronald.

Tak ditampik oleh mereka, kemenangan atas Ahsan/Hendra adalah salah satu penampilan terbaik Ronald dan Geh. Mereka tak menyangka bisa menang lawan senior yang jauh lebih matang dan sudah punya pengalaman jauh lebih banyak. Meskipun sudah cukup sering bertanding saat latihan, tetap saja beda rasanya saat menang di sebuah turnamen.

Cai Yun/Fu Haifeng disebut Geh sebagai lawan yang ingin dihadapinya. Ia mengidolai ganda Tiongkok itu dan ingin beradu pukulan di lapangan bulu tangkis.

"Ya itu, sama sih," kata Ronald dengan nada malu-malu saat ditanya siapa lawan yang ingin ia hadapi.

Satu yang patut diapresiasi dengan acungan jempol adalah pilihan aktivitas mereka saat libur latihan. Ronald dan Geh mengaku tak selalu keluar dari kawasan pelatnas Cipayung saat libur. Kadang mereka memilih untuk ada di lapangan untuk latihan tambahan.

"Enggak, dari diri sendiri," jawab Geh ditanya apakah latihan tambahan itu atas permintaan pelatih atau inisiatif sendiri.

Target mereka dalam waktu dekat adalah rutin berlaga di turnamen tingkat super series mulai tahun depan. Dua sampai tiga tahun lagi, gelar juara dunia adalah target mereka.

Jika dibekali semangat, keseriusan, dan ketekunan, rasanya ucapan Ronald dan Geh tak akan jadi sekedar harapan kosong. Semoga sukses.

 

Penulis: Shesar Andriawan/NAD