Kekurangan di sana-sini yang terjadi selama penyelenggaraan SEA Games di Palembang, Sumatra Selatan, tahun lalu memberi pelajaran tersendiri bagi Riau. Sebagai tuan rumah Islamic Solidarity Games (ISG), Riau tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian Riau adalah kualitas sumber daya manusia yang terlibat selama penyelenggaraan ISG. Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas SDM, pemerintah provinsi Riau memberikan berbagai pelatihan, khususnya untuk mengembangkan kemampuan berbahasa asing.
Komunikasi menjadi hal yang wajib diperhatikan lantaran ISG akan diikuti oleh 57 negara dari berbagai belahan dunia.
“Kami mempelajari betul kekurangan-kekurangan di SEA Games lalu, salah satunya soal (kemampuan bahasa) ini. Dan, setiap Kamis-Jumat, kami mewajibkan Pengurus Besar untuk berbicara bahasa Inggris. Kami juga sudah mulai pelatihan untuk bahasa Arab dan Prancis,” tukas Gubernur Riau, Rusli Zaenal, saat audiensi dengan Komite Olimpiade Indonesia, Selasa (21/2).
Fasilitas dan transportasi juga menjadi perhatian utama Riau. Apalagi provinsi ini juga akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional tahun ini.
Menurut situs resmi PON 2012, Riau menganggarkan Rp143 miliar untuk membangun dan memperbaiki beberapa ruas jalan di provinsi tersebut.
Selain itu Riau juga menambah frekuensi penerbangan Jakarta-Pekanbaru.
Untuk menyukseskan ISG, Rusli mengungkapkan pihak pemprov Riau akan mengajukan permintaan bantuan anggaran sebesar Rp300 miliar kepada pemerintah pusat.
“Untuk Islamic Solidarity Games kami akan mengajukan dana Rp300 miliar kepada APBNP tahun 2012, ini karena ISG berada pada medio 2013. Saya rasa ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan SEA Games 2011,” jelas Rusli.
Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Rita Subowo sebelumnya mengingatkan agar pemerintah tak lagi mengulangi kesalahan yang sama yang terjadi saat mempersiapkan Palembang sebagai tuan rumah SEA Games.
"Diharapkan Keppres (persiapan ISG) bisa segera diterbitkan agar persiapan tidak lagi terburu-buru," ujar Rita saat rapat kerja dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat awal Februari.
Seperti diketahui, penyelenggaraan SEA Games sebagian dinilai gagal karena keterlambatan persiapan di beberapa aspek, terutama venue (tempat-tempat pertandingan). Pembangunan beberapa venue, seperti aquatic center, bahkan baru dinyatakan selesai H-2 pembukaan SEA Games.





