Legenda Tenis Jana Novotna Meninggal di Usia 49

Dalam foto arsip tertanggal 4 Juli 1998 ini petenis Cheska, Jana Novotna, merayakan kemenangan di final tunggal putri Wimbledon. Novotna meninggal pada usia 49 tahun, 20 November 2017. (AFP)

Oleh: Heru Andriyanto / HA | Selasa, 21 November 2017 | 03:53 WIB

Mantan juara Wimbledon Jana Novotna meninggal dunia pada usia 49 tahun, Senin (20/11). Menurut pernyataan Asosiasi Tenis Putri (WTA/Women's Tennis Association), "Novotna mengidap kanker dan meninggal dengan tenang dikelilingi keluarganya."

Wanita asal Republik Cheska itu masuk final tiga kali di Wimbledon pada 1993, 1997, dan 1998, dan memenangi yang terakhir dengan mengalahkan Nathalie Tauziat.

Para penggemarnya tentu ingat momen ketika dia menangis saat dikalahkan legenda Jerman Steffi Graf di final 1993 dan kemudian dihibur oleh Putri Kent.

"Jana adalah inspirasi di dalam dan di luar lapangan bagi semua orang yang berkesempatan mengenalnya," kata Ketua Eksekutif WTA Steve Simon.

"Bintangnya akan selalu bersinar terang dalam sejarah WTA. Rasa duka kami dan simpati bagi keluarga Jana."

Novotna dikenal lewat permainannya yang bergaya serve-and-volley dan peringkat dunia tertinggi yang pernah diraihnya adalah nomor dua.

Selain gelar tunggal putri Wimbledon, dia juga mengoleksi 12 gelar grand slam di nomor ganda putri dan empat grand slam di ganda campuran. Dia masuk ke jajaran legenda tenis dunia atau Tennis Hall of Fame pada 2005.

Kekalahannya melawan Graf di Wimbledon 1993 sangat sulit dilupakan dalam sejarah tenis karena terjadi secara dramatis. Novotna sudah unggul 4-1 di set ketiga dan tinggal satu poin saja untuk unggul 5-1. Sayangnya dia melakukan double fault saat servis dan kemudian kalah 5 game secara beruntun sehingga pertandingan berakhir dengan skor 7-6 (8-6) 1-6 6-4 untuk Graf.

Dia mulai menangis saat penyerahan trofi sehingga seorang anggota kerajaan merangkul dan menghibur dirinya.

"Hari berikutnya, meskipun saya sedih dan kecewa, saya membuka koran dan foto saya bersama Duchess of Kent berada di halaman depan," ujar Novotna dalam wawancara dengan BBC ketika itu.

"Untuk sesaat, saya merasa seperti sayalah pemenangnya dan perasaan itu menyenangkan. Saya masih menyimpan koran-koran itu, fotonya indah dan menurut saya menunjukkan sisi humanis dari tenis profesional -- yang paling diingat orang dibandingkan kabar kekalahan saya."

"Tampaknya tidak terdengar hebat kalau saya katakan bahwa final 1993 itu yang membuat saya paling bangga, karena faktanya saya kalah saat sedang memimpin."

"Namun pertandingan itu sarat makna bagi saya, dan mungkin telah membuat saya menjadi pemain yang lebih baik, manusia yang lebih baik, dan mungkin membantu saya meraih banyak hal dalam karir."




Sumber: BBC
ARTIKEL TERKAIT