Sukses Asian Para Games, Indonesia Ditantang di Paralimpiade 2020

Sukses Asian Para Games, Indonesia Ditantang di Paralimpiade 2020
Tim Basket Kursi Roda Putra Indonesia saat tanding melawan Tim Thailand pada pertandingan Asian Para Games 2018 di Hall Basket Gelora Bung Karno, Jakarta, 10 Oktober 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Ruht Semiono )
Hendro D Situmorang / HA Senin, 15 Oktober 2018 | 23:57 WIB

Jakarta - Tuan rumah Indonesia dengan bangga menutup ajang Asian Para Games 2018 Jakarta akhir pekan lalu. Ajang olahraga disabilitas terbesar se-Asia itu telah sukses diselenggarakan dengan menorehkan banyak rekor dan mengukir sejarah besar di bidang prestasi.

Koleksi 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu menempatkan tim Merah Putih di ranking lima klasemen akhir.

Kesuksesan Indonesia di Asian Para Games 2018 memberikan optimisme tersendiri bagi atlet Indonesia untuk bertarung di ajang yang lebih besar, yakni Paralimpiade untuk atlet penyandang disabilitas. Sebab, semakin banyak atlet Indonesia meraih medali di Asian Para Games, semakin banyak pula yang bisa tampil di Paralympic 2020 Tokyo, Jepang.

Ketua National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Senny Marbun mengatakan langkah selanjutnya lebih berat dan atlet Indonesia ditantang membuktikan keperkasaannya di Asian Para Games bisa berlanjut ke Paralimpiade Tokyo. Namun, langkah itu tidak akan mudah, karena dari laman Tokyo 2020 beberapa cabang olahraga unggulan di APG 2018 justru tidak masuk dalam cabor yang dipertandingkan di Paralimpiade 2020, seperti catur, lawn bowls, dan tenpin bowling.

Meski Senny belum mendapat informasi lebih dalam tentang cabor yang akan dipertandingkan di Paralimpiade, ia berjanji bakal mengedepankan proses seleksi atlet untuk mencapai skor kualifikasi minimum yang ditentukan agar atlet bisa tampil di Paralimpiade. Diakui tuan rumah Paralimpiade, Jepang memang memiliki hak untuk menentukan cabor yang dipertandingkan.

Menurutnya, pihak Komite Paralimpiade Asia (APC) dan Komite Paralimpiade International (IPC) yang akan memberikan agenda single event yang perlu diikuti atlet Indonesia dalam perburuan poin dalam waktu tertentu menuju Tokyo. Hal itulah yang menentukan atlet yang layak turun atau tidak di Paralimpiade Tokyo.

"Kami akan fokus kualifikasi dulu, apalagi prestasi lima besar Asia ini tidak serta merta membuat Indonesia mendapat wild card. Jadi, tetap harus bekerja keras mengumpulkan poin. Di Paralympic 2020, kita targetkan dua medali emas," ungkapnya di Jakarta.

Para Atletik
Pelatih para atletik di Komite Paralimpiade Nasional Indonesia, Purwo Adi Sanyoto mengatakan anak didiknya pun langsung disiapkan menuju Paralimpiade tahun 2020 yang digelar di Tokyo, Jepang, usai mencapai prestasi membanggakan di Asian Para Games (APG) 2018 yakni 6 emas, 12 perak dan 10 perunggu. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di cabang olahraga para atletik Asian Para Games.

Pihaknya tentu ingin meloloskan para atlet ke Paralimpiade 2020. Namun Purwo menyadari bahwa langkah menuju pesta olahraga multicabang tingkat dunia untuk olahragawan dengan disabilitas itu tidak mudah. Para atlet harus mengikuti kejuaraan dunia atau "grand prix" agar dapat memenuhi kualifikasi Paralimpiade, yang jadwalnya akan diumumkan pada 2019.

"Karena itu, atlet yang sudah berprestasi di Asian Para Games jangan cepat puas. Kejar terus batas maksimal sampai level tertinggi. Bagi yang belum mendapatkan medali, tidak boleh putus asa. Jadikanlah itu motivasi untuk meraih prestasi," tutur Purwo.

Sementara terkait pencapaian atletnya di Asian Para Games 2018, Purwo mengaku puas karena prestasi yang dicatatkan para atlet sesuai perkiraan dan bahkan ada yang melebihi target. Ada pula beberapa yang tidak mendapatkan medali, tetapi pencapaiannya mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya.

Ada tiga atlet yang torehannya melampaui rekor Asia yakni Rica Oktavia di kategori lompat jauh T20 putri, Suparniyati di nomor tolak peluru F20 putri dan Sapto Yogo Purnomo nomor lari 100 meter T37 putra.

Pelatih Kepala Bulu Tangkis NPC Indonesia, Muhammad Nurachman mengaku butuh kerja keras bagi tim bulutangkis Indonesia untuk berprestasi karena sebelumnya Merah Putih tidak memiliki reputasi bagus dan belum pernah menyumbang medali di ajang Paralimpiade. Di dua edisi terakhir, medali Indonesia hanya didapat dari tenis meja (perunggu) dan angkat berat (perunggu).

"Tapi saya menyakini dengan prestasi di Asian Para Games 2018, ada harapan baik di tim bulutangkis Indonesia. Namun Indonesia harus berjuang terlebih dulu dalam mengumpulkan poin mulai 2019 agar bisa tampil di Paralimpiade 2020," jelasnya.

Di Paralimpiade 2020 mendatang, Nurachman akan mengandalkan ketajaman anak didiknya Dheva Anrimusthi dan Suryo Nugroho yang mencuri perhatian di cabor bulutangkis Asian Para Games 2018 dan menyumbang medali. Dheva bersama Suryo akan diikutsertakan di Paralimpiade 2020.

"Tapi harus diakui di Paralimpiade tidak semua nomor yang dipertandingkan. Double tak begitu banyak, tapi single. Tidak semua kita berangkatkan, kita pilih yang tertinggi dan yang punya peluang juara. Siapa yang diprioritaskan? Suryo dan Dheva, karena setiap event mereka masuk semifinal dan final," tutupnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE